Chapter 1
PERTEMUAN YANG TAK SENGAJA
Malam itu, setelah mengantar penumpang, Dana melihat seorang gadis sedang berdiri di atas jembatan. Gadis itu terlihat frustasi sampai ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan tersebut. Ini membuat empati Dana muncul. Segera Dana menghampiri sang gadis.
"Jangan melompat! Apa pun yang terjadi, tolong jangan lompat! Kamu tidak akan mati jika lompat dari jembatan ini!" seru Dana.
"Siapa yang peduli? Apa pedulimu?" tanya Sang Gadis sambil menangis tersedu.
"Ya, aku hanya peduli sebagai manusia aja sih. Tapi kalau mau lanjut lompat ya silakan. Paling kamu cuma kesleo atau paling parah cuma patah tulang doang," jawab Dana sambil menyender di tugu jembatan.
Sang gadis terdiam berpikir. Ia melihat lagi ke arah sungai memastikan ucapan laki-laki asing yang ada di dekatnya itu.
"Dari mana kamu tahu kalau aku terjun dari sini nggak bakal mati?" tanya Si Gadis.
Dana tersenyum tipis dan berkata; "Kamu adalah orang yang kesekian yang mau coba bunuh diri di sini. Kemarin tetanggaku, Jono, juga mau bunuh diri di sini karena dia kelilit pinjol. Eh bukannya mati malah sekarang dia pincang,"
Lagi-lagi si gadis itu terdiam.
"Kalau kamu mau tahu tempat bunuh diri yang langsung mati aku tahu tempatnya," ucap Dana sambil melangkah menuju sepeda motornya.
Suasana hening sesaat. Dana menyalakan motornya untuk melenggang meninggalkan gadis yang malang itu.
"Hei, tunggu!" teriak Si Gadis.
"Apa lagi?" jawab Dana.
Gadis itu turun dari tugu jembatan dan menghampiri Dana.
"Kamu bilang kamu tahu tempatnya. Tolong antarkan aku ke sana," ucap Si Gadis.
"Antar ke mana? Pulang?" Kata Dana bingung.
"Ya antar ke tempat yang kamu katakan tadi. Kan kamu bilang kamu tahu tempat itu,"
"Oh tempat bunuh diri maksudmu?" ucap Dana tersenyum. "Boleh, tapi tidak hari ini ya. Aku mau makan, lapar, terus mau lanjut ngojek juga," sambungnya
"Tunggu... tunggu... aku akan bayar berapa pun yang kamu minta, tapi antarkan aku ke sana," sang Gadis menahan dan berusaha membujuk.
"Oke, tapi aku makan dulu. Dari siang aku belum makan soalnya," jawab Dana.
"Terserah," ucap gadis itu singkat.
Keduanya pun melangkah pergi dari jembatan. Tanpa pikir panjang, Dana mengarahkan sepeda motornya ke warung Bu Inah langganannya.
***
"Bu, makanan kayak biasa ya, dua," kata Dana memesan.
"Eh elu, Dan. Tumben baru keliatan," jawab Bu Inah. "Itu cewek Lu, Dan?" tambahnya.
"Bukan. Aku nemu dia di jembatan sana, mau bunuh diri katanya. Tapi nggak jadi." jawab Dana tersenyum.
Dana mulai menyantap makan malamnya. Sementara, gadis itu hanya diam saja. Dia terlihat tidak nyaman di warung makan Bu Inah.
"Udah, makan dulu aja. Nanti aku antarkan. Santai," ucap Dana.
"Aku nggak mau makan. Kamu aja yang makan," ucap Si Gadis dengan sinis.
Melihat Dana yang sedang makan dengan lahapnya, perut si gadis mulai keroncongan. Rupanya ia juga kelaparan. Namun, gadis itu masih gengsi mengakuinya.
Dana melihat gelagat gadis yang terlihat kelaparan itu. Ia kembali menawarkan makanan yang tersaji di hadapan sang gadis. Kali ini, si gadis tak lagi menolak. Segera ia menyantap makanan itu seperti orang yang baru makan setelah dua hari tidak makan. Dana tertawa kecil melihat tingkah si gadis.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya si gadis.
"Nggak ada. Cuma kayaknya kamu laper banget ya sampai gitu makannya," jawab Dana.
Gadis itu tersipu malu.
"Oh ya, btw kita belum kenalan. Namaku Dana," ucap Dana sambil mengulurkan tangannya.
Lagi-lagi gadis itu diam cukup lama. Ia kaget sekaligus bingung.
"Sorry, aku nggak bermaksud. Lupakan saja," timpal Dana kembali menarik tangannya.
Gadis itu menatap ke arah Dana cukup tajam dan ia berkata, "Its okey, namaku Lisa. Yah, panggil saja Lisa,"
"Oh ya, Lisa, boleh kutanya sesuatu? Ini mungkin lancang, tapi aku cuma penasaran saja. Kenapa kamu ingin mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan kayak tadi?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Oh nggak. Aku cuma penasaran aja. Mungkin masalahmu berat banget ya sampai ingin mati segala," ucap Dana.
"Ya, aku hanya malu. Aku bingung harus bagaimana. Mungkin mati adalah pilihan yang baik," balas Lisa.
Perlahan Lisa pun mulai terbuka dengan Dana, laki-laki asing yang datang entah dari mana dan baru saja berkenalan dengannya. Lisa mengungkapkan bahwa ia merasa hancur karena kedua orang tuanya selalu bertengkar dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Ia juga bingung untuk ikut siapa, sehingga Lisa memutuskan pergi dari rumah. Pertengkaran yang terjadi membuat Lisa merasa hancur. Selama ini dia tidak pernah merasakan kedamaian dan bahagia. Semua masalahnya ia pendam dan perpisahan kedua orang tuanya menjadi puncak dari masalah yang mendorongnya untuk mengakhiri hidup. Namun setelah menceritakan masalahnya, entah mengapa Lisa pun merasa sedikit lega. Ia merasa sebagian masalahnya hilang begitu saja, sehingga ia merasa tenang.
"Oh ya, Lis. Aku minta maaf ya. Sebenarnya aku juga tidak tahu tempat bunuh diri yang aku maksud di jembatan tadi. Aku ngomong gitu supaya kamu tidak lompat saja," ucap Dana sambil merenges malu.
"Hah! Jadi kamu bohong!" balas Lisa, kaget.
"I...ya maaf. Sekarang terserah kamu. Mau kuantar pulang atau ke mana?"
"Aku nggak tahu. Aku nggak mau pulang, tapi aku juga nggak tahu harus ke mana," balas Lisa.
Keduanya kebingungan. Lisa kembali bersedih hati. Ia tidak tahu harus bagaimana. Dana pun demikian. Ia juga bingung harus bersikap seperti apa ke Lisa. Satu sisi ia ingin lanjut ngojek, tapi dia tidak tega meninggalkan Lisa sendirian di warung Bu Inah.
"Oh aku punya ide, sebentar," ucap Dana, lalu mengambil ponselnya.
Kemudian Dana menelepon seorang temannya. Ia menanyakan kesediaan Vivi, temannya, untuk menampung Lisa sementara waktu. Untungnya, Vivi adalah teman yang baik. Ia bersedia menerima Lisa tinggal di kamar kostnya.
Setelah membayar makanan yang dipesan, Dana dan Lisa bergegas menuju tempat kost Vivi.
"Dana, terima kasih ya, kamu sudah membantuku," ucap Lisa.
"Iya, santai saja," balas Dana.
Sesampainya di tempat Vivi, Dana mengirim pesan bahwa ia dan Lisa sudah berada di depan kost. Ya, tempat kost itu hanya dihuni oleh wanita saja, jadi Dana hanya bisa duduk di depan kost saja.
"Wuih, siapa nih? Cewek lu ya, Dan? Pinter juga lu milih cewek," ucap Vivi sambil melangkah menghampiri.
"Ah bukan. Dia tadi mau bundir di jembatan sana, tapi nggak jadi, berubah pikiran katanya. Dia juga lagi ada masalah keluarga, jadi aku minta tolong sama kamu buat nampung dia sementara, boleh kan?" ucap Dana.
"Ah masa? Kok lu baik banget sama dia? Pasti ada sesuatu dong, iya kan?" ledek Vivi.
"Ya sudah, terserah kamu mau mikir apa, yang jelas aku mau nitip dia sama kamu. Tenang, nanti aku bantu bayar bulanannya. Aku mau lanjut kerja lagi habis ini," ucap Dana.
"Okey boleh, gampang kalau itu. Gue tahu lu kok. Santai," balas Vivi.
Dana kembali menghampiri Lisa yang masih duduk di atas motor. Ia juga mengenalkan Lisa dengan Vivi dan begitu sebaliknya.
"Jadi sudah ya, aku mau balik ngojek lagi. Vi, terima kasih ya bantuanmu," ucap Dana.
"Santai, Bro, kayak sama siapa aja lu," ucap Vivi sambil tertawa lirih.
Dana pergi mengendarai sepeda motornya. Vivi pun mengajak Lisa ke kamarnya.
***
Lisa merasa berhutang budi dengan Dana dan Vivi karena mereka sudah membantunya. Ia juga mulai penasaran dengan hubungan antara Dana dan Vivi.
"Kak Vivi maaf, kalau boleh tahu Kak Vivi pacarnya Dana?" tanya Lisa canggung dan sedikit malu.
"Jangan panggil kak dong. Tua banget apa gue ini? Panggil nama gue aja biar akrab," ucap Vivi sambil sedikit tertawa.
"Eh maaf, Vivi,"
"Tadi apa pertanyaan lu? Gue pacaran sama si Dana? Bukan. Kita cuma temenan aja. Lagian dia tuh cowok super sibuk di dunia. Jangankan buat pacaran, buat nyari pacar aja dia nggak pernah punya waktu," jawan Vivi.
"Emang dia sibuk banget ya, Kak?... eh maaf, Vivi maksudnya," ucap Lisa penasaran.
"Uh bukan lagi, tapi banget banget banget deh pokoknya. Lu bayangin aja, Subuh dia udah berangkat ke pasar manggulin dagangan orang. Ntar siang dia udah ngojol. Sorenya dia kerja di cafe sampe malam. Malamnya lagi dia ngojol lagi. Tidur aja paling sejam dua jam doang dia mah," jelas Vivi.
"Segitu kerasnya ya dia kerja? Emang buat apa sih dia kerja segitunya?" Lisa semakin penasaran.
"Wah kalau itu gue nggak bisa jawab deh," balas Vivi, "Eh tunggu. Kok lu jadi nanyain dia? Lu mulai suka ya sama dia? Hayo loh ngaku," sambungnya sedikit meledek.
"Oh nggak... lupain aja, nggak jadi," balas Lisa gugup, pipinya sedikit kemerahan menahan malu.
Malam itu, menjadi malam yang berkesan bagi Lisa. Setelah semua orang yang ditemuinya tidak ada peduli dengannya, tetapi di malam itu ia dipertemukan dengan orang-orang yang bisa memahami dan peduli dengannya. Namun, ada yang aneh dengan perasaan Lisa. Setiap dia mengingat pertemuannya dengan Dana, ia merasa bahagia sekali. Tak jarang Lisa sering senyum-senyum sendiri ketika mengingat hal itu, terlebih ketika ia terbayangkan wajah Dana. Mungkin, perasaan cinta telah berhasil memporak-porandakkan hatinya.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar