Langsung ke konten utama

Analisis Psikologi sastra



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Novel merupakan salah satu jenis dari karya sastra prosa yang banyak digemari.  Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya judul-judul novel baru yang bermunculan.  Penikmatnya pun semakin lama semakin banyak, mengingat banyak sekali judul-judul novel yang menyandang gelar “Best Seller”.  Cerita yang diungkapkan beragam, mulai dari mengangkat tema percintaan, pendidikan, agama dan lain sebagainya.
Saat ini, pengarang berlomba-lomba mengasah kreativitas dalam menciptakan sebuah novel yang memiliki kualitas.  Kualitas sebuah novel sendiri salah satunya dapat dilihat atau diamati dari sisi unsur intrinsik dan ekstrinsiknya.  Unsur-unsur intrinsik seperti tema, plot (alur), latar, sudut pandang pengarang, penokohan, gaya bahasa dan amanat yang terkandung dalam sebuah novel dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai kualitasnya.  Sedang dari sisi unsur ekstrinsik dapat dilihat dari pengaruh-pengaruh luar dari struktur novel sendiri seperti kebudayaan, agama, politik, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pengarang.
Dengan perkembangannya ilmu tentang sastra, maka bukan hanya unsur-unsur yang terdapat di dalam sebuah karya sastra saja yang dapat dikaji atau analisis tetapi pada saat ini sastra juga dapat dikaji berdasarkan faktor-faktor yang berasal dari luar karya sastra itu. Faktor-faktor dari luar karya sastra salah satunya adalah psikologi sastra.
Psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra, baik dari unsur pengarang, tokoh  atau pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan Psikologi Sastra.
Analisis Teori Psikologi Sastra yang dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis dan diaplikasikan dengan meminjam teori  kepribadian ahli psikologi terkenal. Dengan meletakkan teori sebagai dasar penganalisisan, maka pemecahan masalah akan gangguan kejiawaan tokoh utama akan dapat dijembatani secara bertahap.
Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu sering pula dialami oleh orang lain.
Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi karya sastra bahwa karya sastra selalu saja  membahas tentang peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan manusia.Untuk melihat dan mengenal manusia lebih jauh perlu psikologi. Dalam pelaksanaan pendekatan psikologi dalam kajian sastra hanya dapat diambil bagian-bagian yang berguna dan sesuai dengan pembahasan sifat dan hal yang membahas tentang perwatakan manusia. Psikologi sastra  merupakan kajian sastra  yang pusat  perhatiannya pada aktivitas kejiwaan  baik dari tokoh yang ada  suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra,bahkan pembaca sebagai penikmat sebuah karya. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan psikologis pengarang sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.                       
Dalam makalah ini mengulas unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah novel yang berjudul Sebuah Usaha Melupakan karya dari Boy Chandra. Alasannya adalah karena novel yang berjudul Sebuah Usaha Melupakan dianggap memiliki tema cerita kisah yang menarik.  Sebuah Usaha Melupakan menyajikan sebuah cerita tentang hubungan percintaan yang terputus karena jarak.  Ketertarikan terhadap novel inilah yang akhirnya membuat penulis menjatuhkan pilihan untuk menganalisis dan mengulasnya ke dalam sebuah karya tulis dengan judul “Analisis Unsur Intrinsik , Ekstrinsik dan Psikologi sastra pada novel yang berjudul Sebuah Usaha Melupakan”.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :
-          Bagaimana unsur intrinsik (tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang pengarang, gaya bahasa dan amanat) yang terkandung dalam novel Sebuah Usaha Melupakan?
-          Bagaimana unsur ekstrinsik yang terkandung dalam novel Sebuah Usaha Melupakan?
-          Bagaimana unsur Psikologi sastra yang terkandung dalam novel Sebuah Usaha Melupakan?
C.    Tujuan
            Berdasarkan pemahaman di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ini antara lain:
-          Mahasiswa memperoleh pegetahuan lebih mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel.
-          Mahasiswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai bagaimana cara menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel.
-          Mahasiswa dapat menemukan dan menginterpretasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam sebuah novel.
-          Mahasiswa dapat menilai kualitas sebuah novel dengan menggunakan teori struktural (intrinsik dan ekstrinsik).

BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam atau menurut dirinya (karya sastra itu sendiri). Menurut Wellek dan Warren (1990: 79), yang paling banyak dibahas dalam studi sastra adalah latar (setting), lingkungan dan hal-hal yang bersifat eksternal.
1.      Tema
Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita.  Tema tidak lain adalah ide pokok, ide sentral atau ide yang dominan dalam karya sastra (Sugiarti, 2002: 37-38).  Tema dibedakan menjadi tema utama (mayor), yaitu makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu dan tema tambahan (minor), yaitu makna tambahan yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita.
2.      Plot
Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita. Menurut (Nurgiantoro, 2010: 113), kemudian tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lain. Plot atau alur sendiri menurut bentuknya terbagi menjadi alur maju, alur flashback dan alur campuran. 
Alur maju yaitu alur yang mengalir biasa dari awal terbentuknya konflik hingga penyelesaiannya.  Alur flashback atau sorot balik adalah alur yang saat cerita sedang berjalan dengan alur maju, kemudian cerita dikembalikan ke masa lalu sebelum peristiwa yang diceritakan selesai.  Terakhir, alur campuran adalah alur yang ceritanya tidak runtut menurut kronologi kejadian alias bercampur-campur.  Kadang pertengahan cerita yang diceritakan terlebih dahulu, kemudian kembali ke masa lalu dan langsung meloncat ke masa depan, atau dapat dimodifikasi sesuai selera pengarang.
3.      Latar Cerita/Setting
Latar atau setting dalam pemahaman sederhana merupakan tempat terjadinya peristiwa baik yang berupa fisik, unsur tempat, waktu dan ruang ataupun peristiwa cerita (Sugiarti, 2002: 55).  Latar disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiantoro, 2010: 216). Latar dibagi menjadi empat bagian, antara lain:
1)      Latar Tempat
Latar tempat adalah menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur yang dipergunakan mengkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
2)      Latar Waktu
Latar waktu adalah latar waktu yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.
3)      Latar Suasana
Latar suasana adalah latar yang menggambarkan suasana batin maupun lingkungan yang terjadi dalam cerita. Latar suasana dapat berupa suasana sedih, gembira, kacau, bingung, dan lain sebagainya.

4)      Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi mencakup masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan lain-lain.  Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
4.      Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu.  Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh.  Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminudin, 2010: 79). Penokohan berdasarkan pentingnya keterlibatan dalam cerita antara lain:
a.        Tokoh utama (main character), yaitu tokoh yang diutamakan penceritaannya atau tokoh yang berperan penting dalam cerita.
b.       Tokoh tambahan (peripheral character), yaitu tokoh yang tidak memiliki peranan penting dalam cerita yang fungsinya melayani, melengkapi, mendukung tokoh utama dalam menjalankan tugasnya.  Penceritaan mengenai dirinya relatif pendek dan tidak mendominasi.
Penokohan dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dilihat sebagai berikut:
1)       Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang dikagumi oleh pembaca karena menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan pembaca.  Tokoh protagonis memberikan empati, simpati, dan melibatkan diri secara emosional dengan pembaca.
2)       Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.  Tokoh antagonis sering kali  tidak disenangi oleh pembaca karena tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca.
5.      Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang atau point of view merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembacanya (Abrams dalam Nurgiantoro, 2010: 248).  Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya.  Sudut pandang dibagi menjadi tiga, yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga dan sudut pandang campuran.
a.        Sudut Pandang Orang Pertama
Sudut pandang orang pertama menggunakan  ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut.
b.       Sudut Pandang Orang Ketiga
Sudut pandang orang ketiga menggunakan gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.
c.        Sudut Pandang Campuran
Sudut pandang campuran yaitu pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
6.      Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris, simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat bagi adegan seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain.
7.      Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang terhadap pembaca melalui karyanya, yang tersirat dan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan cerita.  Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara tersirat yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
B.     Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi tidak secara langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.  Secara lebih khusus dapat unsur ekstrinsik dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.  Berbicara mengenai unsur ekstrinsik, maka yang disorot adalah pengarang.
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren dalam Nurgiarntoro (2010: 24) bahwa unsur ekstrinsik terdiri atas beberapa unsur.  Unsur-unsur yang dimaksud antara lain keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.  Dengan kata lain, biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya. Unsur ekstrinsik selanjutnya adalah psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, maupun prinsip psikologi dalam karya.  Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga akan beepengaruh terhadap karya sastra.  Kemudian yang  terakhirunsur ekstrinsik dapat pula berupa pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni lain dan sebagainya.
C.    Psikologi Sastra
Psikologi sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologi. Artinya, psikologi turut berperan dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut. Langkah pemahaman  teori psikologi sastra dapat  melalui, pertama pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakuykan analisis terhadap suatu karya sastra.  Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan objek penelitian.
Menganalisis sebuah karya sastra menggunakan pendekatan psikologi harus berlandaskan pada teori, konsep dan definisi dalam bidang sastra dan psikologi atau dikenal dengan psikoanalisis. Teori psikologi dan teori sastra harus saling mengisi.

D.      Ruang Lingkup Psikologi Sastra
Mempelajari psikologi sastra sama halnya mempelajari manusia dari sisi dalam. Daya tarik psikologi sastra ialah pada  masalah manusia yang melukiskan potret jiwa.  Ruang lingkup psikologi sastra adalah sebagai berikut :
1.         Alam bawah sadar
Alam bawah sadar adalah bagian pikiran manusia yang tidak disadari keberadaanya, namun pengaruhnya sangat besar. Biasanya keluar  dalam keadaan terdesak, terpaksa, ketakutan dan  respon mendadak.
2.         Alam  pra Sadar
Alam pra sadar yaitu mengingat kembali kenangan-kenangan suatu peristiwa yang terjadi.
3.         Alam Sadar
Alam sadar yaitu melakukan segala aktivitas dengan sadar. Biasanya dengan penginderaan langsung.
4.         Id
Id adalah komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan.
5.         Ego
Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan nyata. Ego berusaha untuk memuaskan id dengan cara-cara yang nyata.
6.         Super Ego
Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua moral cita-cita yang kita peroleh dari kehidupan sosial. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.
7.         Kompleks Oidipus
Kompleks oidipus merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual pada masa ketika hasrat seseorang untuk secara seksual memiliki orang tua dengan jenis kelamin berbeda. Sehingga secara tidak langsung alam bawah sadarnya merekam kasih sayang orangtuanya kepada seseorang yang dia sayang. Biasanya terobsesi dari orangtuanya.
BAB III
PEMBAHASAN

A.    Unsur Intrinsik
Seperti yang dibahas dalam kajian teori unsur intrinsik yang ada pada novel Sebuah Usaha Melupakan karya Boy Chandra meliputi
1.      Tema pada Novel Sebuah Usaha Melupakan
Dalam novel Sebuah Usaha Melupakan, yaitu tema percintaan. Hal ini dibuktikan dengan: “...Percayai hatimu, kita sedang melakukan hal yang sama. Saling memperjuangkan cinta.” (35)
“...Denganmu aku ingin menulis segala cerita perihal hidup dan jatuh cinta.” (35)
2.      Plot (Alur) dalam novel Sebuah Usaha Melupakan
Alur pada novel Sebuah Usaha Melupakan

4.3  Latar Cerita pada Novel Biola Tak Berdawai
4.3.1  Latar Tempat
Secara keseluruhan, tempat yang melatari cerita dalam novel Biola Tak Berdawai mengambil lokasi di Kotagede, Yogyakarta.  Berikut beberapa kutipan yang menjelaskan latar tempat:
·      Panti
Panti asuhan tempat anak-anak tunadaksa dirawat bernamaRumah Asuh Ibu Sejati.  Terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta yang biasa diucapkan sebagai Jogja.
(BTB: 9)
·      Hamparan sawah
Ibuku menuntunku di tengah hamparan sawah yang menguning.  Dalam hembusan angin, batang-batang padi itu bagaikan sedang bersembahyang dan setiap kali tegak memuji kebesaran Tuhan.
(BTB: 37)
·      Pantai
Hari itu, ibuku dan aku beradadi tepi pantai yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta – sebatas itulah semesta simbolik orang Jogja, antara Laut Selatan dan Gunung Merapi di utara, di luar itu tiada lagi dunia.
(BTB: 45)
Ibuku berjalan di tepi pantai Krakal.  Setiap kalilaut surut, tampaklah pemandangan ganggang hijau yang tersebar di tepian pantai.  Ibuku berjalan sendirian saja di pantai itu, melangkah dalam angin, memperhatikan lidah-lidah ombak setiap kali pasang dan setiap kali surut kembali.
(BTB: 143)
·      Candi Prambanan
Ballet Ramayana dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan.  Bulan yang sama juga menyinari candi itu ketika selesai dibangun seribu dua ratus tahun yang lalu.  Ketika ibuku membawaku masuk ke taman wisata Candi Prambanan, ibuku bercerita tanpa peduli aku mendengar atau tidak, ia bercerita dan terus bercerita dengan asyiknya.
(BTB: 95)
·      Makam
Bhisma menenteng biola, sebelah tangannya menggandengku.  Kami berhenti di bawah sebuah pohon yan teduh – di situlah makam ibuku, di antara makam bayi-bayi tunadaksa, masih merah tanahnya, meski rumput mulai tumbuh.
(BTB: 185)
4.3.2  Latar Waktu
       Latar waktu dalam novel Biola Tak Berdawai tidak begitu dijelaskan secara rinci mengambil seting pada tahun berapa.  Dalam novel ini latar waktu yang disebutkan hanya berkisar apakah adegan-adegannya dilakukan pada saat pagi, siang atau malam, dan adegan latar waktu yang disebutkan sering kali malam.  Contoh kutipan yang memuat latar waktu malam hari antara lain sebagai berikut:
Malam itu Mbak Wid kembali kepada peranannya sebagai peramal.  Kali ini dengan tamu baru bernama Bhisma, anak muda pemain biola yang tersedot keluar dari balik kedap suara karena ibuku.
(BTB: 112)
Pada Malam bulan purnama, Bhisma muncul di balik jendela ketika ibuku sedang memandangi rembulan itu.  Aku juga berada di sana, kepala tertunduk mata hanya menatap lantai, tetapi bisa mengawasi segalanya.
(BTB: 131)
4.3.3  Latar Suasana
Ada beberapa latar suasana yang terdapat dalam novel Biola Tak Berdawai, diantaranya adalah suasana tegang, bahagia, sedih, dan kacau.  Suasana tegang terjadi pada saat Mbak Wid tersinggung dengan perkataan sikap Renjani yang terlalu memberikan perhatian berlebih pada Dewa seperti yang terdapat pada kutipan berikut:
       Tapi Mbak Wid, entah kenapa seperti tersinggung oleh perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan.  Nada suaranya tiba-tiba meninggi.
“Anak-anak yang dibuang orangtuanya.  Anak-anak yang bikin malu keluarganya. Anak-anak yang umurnya tidak lama!”
Ibuku mengimbangi dengan perlahan.
“Ssstt.. Mabak Wid… ada Dewa…”
Maka Mbak Wid pun bicara tentang diriku.
“Duuuhhh, Renjaniiii, Renjani… Saya  tahu kamu sangat sayang kepada Dewa, tapi anak itu tidak mengerti omongan kita.  Itu anak tidak mengerti apa-apa.  Dia bukan saja jaringan otaknya rusak, tapi juga autistik.  Matanya terbuka tapi tidak melihat.  Telinganya tidak mendengar.  Kamu sendiri kan sudah melihat hasil test-nya.”
(BTB: 18)
       Berikut kutipan yang menggambarkan suasana bahagia ketika Renjani melihat Dewa bisa mengangkat kepalanya:
Aku ingin sekali melihat ibuku menari dengan mata kepala sendiri. Aku ingin sekali. Suatu tenaga yang mahadahsyat entah dari mana membuat kepalaku terangkat – hanya sepersekian detik, dan ibuku melihat!
   Ibuku terhambur memelukku.
“Dewa, Dewa – Dewa suka Ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
(BTB: 83)
Suasana kacau juga disajikan dalam novel ini saat Renjani mengalami kesakitan yang amat sangat.  Saat itu Dewa yang berada dekat dengannya sangat ingin menolong Renjani, namun keterbatasan fisiknya membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa sehingga perasaan Dewa begitu kacau seperti kutipan :
“Di tempat tidurnya ibuku meronta ke kiri dan ke kanan.  Seluruh tubuhnya berkeringat dan benaknya sungguh penuh dengan mimpi-mimpi buruk.  Aku ingin menggapainya.   Ingin masuk ke alam mimpi dan mengusir mimpi-mimpi buruknya.  Aku menggapai tapi tak kunjung mencapai. Aku ingin melompat dari stoples kaca ini namun ternyata aku terjatuh bersama stoples itu, melayang dan melayang dalam semesta jiwa yang sunyi.”
(BTB: 130)
Ada pula suasana sedih seperti yang ada dalam kutipan :
Ibuku mengangkat wajahnya.  Cerita Mbak Wid memang menyedihkan, namun memberi keberanian bagi ibuku untuk bercerita tentang dirinya, karena ia merasa penderitaannya lebih berat.
“Saya terpaksa…”
Air matanya tumpah.
“Saya dipaksa…”
Mbak Wid ternganga, menyadari betapa beratnya beban derita ibuku.
“Renjani…”
Tangis ibuku menjadi.
(BTB: 77)


4.3.4  Latar Sosial
Latar sosial yang ada dalam novel Biola Tak Berdawai ini mencerminkan perilaku hidup yang menjunjung tinggi nilai sosial.  Di tengah banyaknya pembuangan bayi, masih ada saja orang yang dengan rela hati menampung bayi-bayi malang itu untuk dirawat. 

4.4  Penokohan dalam Novel Biola Tak Berdawai
4.4.1  Penokohan Berdasarkan Pentingnya Keterlibatan dalam Cerita
Tokoh utama dalam novel Biola Tak Berdawai ada tiga, yaitu Dewa, Renjani dan Bhisma.  Dikatakan sebagai tokoh utama karena ketiga tokoh ini menjadi sentral cerita dan diutamakan penceritaan tentang diri.  Dewa misalnya, sebagai tokoh ia memiliki banyak porsi penceritaan tentang dirinya yang tidak lain menjadi sudut padang pengarang (serba tahu).  Ia diceritakan sebagai anak penderita tunadaksa yang berhasil hidup lebih lama dibandingkan anak-anak tunadaksa lainnya.  Tokoh Dewa juga selalu ada dalam penceritaan mulai dari bab pertama hingga terakhir.
Kisah cinta antara Renjani dan Bhisma membuat mereka juga dikatakan sebagai tokoh utama yang juga memiliki banyak porsi penceritaan.  Terlebih kisah cinta antara keduanya terkait pula dengan keberadaan tokoh Dewa.
Pemeran tambahan pada novel Biola Tak Berdawai adalah Mbak Wid.  Penceritaan mengenai tokoh Mbak Wid tidak begitu banyak dan hanya melengkapi cerita.  Meskipun ada pula bagian novel yang khusus menceritakan tentang Mbak Wid, namun penceritaannya relatif pendek dan tidak mendominasi cerita layaknya tokoh Dewa, Renjani dan Bhisma.
4.4.2  Penokohan Dilihat dari Fungsi Penampilan Tokoh
Dilihat dari fungsi penampilan tokoh, penokohan terdiri atas tokoh protagonis  dan antagonis.  Dalam novel Biola Tak Berdawai, yang menduduki posisi sebagai tokoh protagonis adalah Dewa, Bhisma dan Mbak Wid.  Ini dikarenakan ketiga tokoh ini memenuhi kriteria sebagai tokoh protagonist seperti memberikan simpati dan empati pada pembaca dan melibatkan diri secara emosional.  Tokoh-tokoh ini pun dapat dikatakan memiliki sifat yang dikagumi dan menampilkan hal-hal yang sesuai dengan pandangan pembaca.
Ada pula tokoh yang menduduki posisi sebagai tokoh antagonis yaitu Renjani.  Tokoh antagonis tidak selalu jahat.  Namun, tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.  Di dalam novel Biola Tak Berdawai, tokoh Renjani lah yagmenimbulkan konflik seperti penolakannya terhadap Bhisma.
4.4.3  Penokohan Berdasarkan Perwatakannya
Berdasarkan perwatakannya, penokohan terbagi atas tokoh sederhana dan tokoh bulat.  Tokoh sederhana dalam novel Biola Tak Berdawai adalah Dewa dan Bhisma.  Alasannya adalah tokoh Dewa hanya memiliki satu kualitas pribadi yaitu sebagai anak tunadaksa yang panca inderanya lumpuh tapi bisa merasakan segalanya.   Dewa pun juga tidak memiliki banyak masalah.  Begitu pula dengan Bhisma yang hanya memiliki satu kualitas pribadi.  Ia tampil sebagai tokoh seorang pemuda yang pandai memainkan biola dan dalam usianya yang muda, ia jatuh cinta pada seorang wanita yang terpaut usia delapan tahun lebih tua darinya.
Tokoh bulat dala novel Biola Tak Berdawai adalah Renjani dan Mbak Wid. Tokoh Renjani disebut sebagai tokoh bulat karena ia memiiki karakter yang kompleks sehingga memiliki banyak (lebih dari satu masalah).  Selain bermasalah dengan masa lalunya, Renjani dihadapkan pada masalah percintaannya dengan Bhisma dan penyakit kankernya.  Selain itu, tokoh Mbak Wid juga dikatakan sebagai tokoh bulat karena karakternya pun kompleks.  Mbak Wid bukan hanya sebagai dokter yang dengan lembut dan rela hari merawat anak-anak tunadaksa, ia juga merupakan sosok paranormal yang selalu bergelut dengan kartu-kartu tarotnya setiap malam.

4.4.4  Penokohan Berdasarkan Perkembangan Watak
Berdasarkan perkembangan watak, penokohan dibagi menjadi tokoh statis dan tokoh dinamis.  Tokoh statis dalam novel Biola Tak Berdawai adalah Dewa, Bhisma dan Mbak Wid, karena dari awal hingga akhir novel watak mereka cenderung tetap dan tidak mengalami perubahan.  Tokoh dinamis ada adalah Renjani yang mengalami perkembangan watak dari yang semula tidak ingin mengenang masa lalunya sebagai seorang penari ballet, akhirnya karena ingin membahagiakan Dewa, ia mau menari lagi.  Selain itu, wataknya berkembang dari yang awalnya mencintai Bhisma, namun dengan berbagai alasan ia menjauhi Bhisma dan pada akhirnya ia ingin juga bersama Bhisma meski ternyata hal itu tidak tercapai karena ia meninggal dunia.
4.4.5  Penokohan Berdasarkan Pencerminannya dengan Kehidupan Nyata
       Ada tokoh tipikal dan tokoh netral dalam penokohan berdasarkan pencerminannya dengan kahidupan nyata.  Namun dalam novel Biola Tak Berdawai, hanya ada tokoh tipikal saja karena tokoh-tokohnya dipandang sebagai reaksi, tanggapan , penerimaan atau tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata.  Misalnya saja Dewa sebagai anak tunadaksa.  Anak tunadaksa memang riil ada di dunia nyata.  Begitu pula dengan tokoh lainnya.
4.4.6  Penokohan Berdasarkan Sifat dan Karakter Masing-masing Tokoh
a.    Dewa
Dewa merupakan tokoh yang digambarkan sebagai anak penderita tunadaksa dengan segala kekurangan atau komplikasi cacat tubuh.  Ia buta, tuli, bisu, lumpuh, autis dan tampilan fisiknya tidak normal.  Namun dengan segala kekurangannya ini, Dewa dapat merasakan atau memikirkan lingkungannya meski ia tidak dapat berbuat apa-apa dengan itu.  Lebih jelasnya berikut kutipan yang mendeskripsikan sifat dan karakter tokoh Dewa:
Namaku Dewa, umurku menjelang delapan tahun, dan aku tidak pernah tumbuh seperti anak-anak lainnya. Aku disebut sebagai anak tunadaksa, yakni memiliki lebih dari satu cacat, dan salah satunya adalah tunawicara.  Menurut pemeriksaan, aku dilahirnkan dengan kelainan sistem peredaran darah, yang membuat tubuhku tidak berkembang.  Aku juga disebut memiliki kecenderungan autuistik, mataku terbuka tapi tidak melihat, telingaku bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, tentu karena jaringan otakku yang ternyata rusak.  Leherku selalu miring, kepalaku selalu tertunduk – ya, pandanganku selalu terarah ke bawah.  Aku seperti bayi tua, tubuhku keci tetapi wajah lebih berusia : anak-anak kecil suka memanggilku anak tuyul atau anak gendruwo, semuanya setan-setan gentayangan yang hanya mereka kira-kira saja bentuk rupanya.
(BTB: 9)
b.    Renjani
Renjani digambarkan sebagai tokoh seorang wanita berusia 31 tahun yang peduli terhadap nasib anak-anak tunadaksa yang dibuang oleh orang tuanya.  Ia mendirikan sebuah panti bernama Rumah Asuh Ibu Sejati yang menampung dan merawat anak-anak tunadaksa.  Di antara anak-anak tunadaksa yang diasuhnya, Renjani sangat menyayangi Dewa.  Ia menganggap Dewa seperti anaknya sendiri dan selalu diperlakukannya selayaknya anak normal. 
Saat itu kutelan makanan yang disuapkan ibuku.
“Anak pintar,” kata ibuku, “makanannya habis.  Anak Ibu memang pintar, dan hanya anak-anak pintar seperti kamu Dewa, yang boleh tinggal di sini.”
Tapi Mbak Wid, entah kenapa seperti tersinggung oleh perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan.  Nada suaranya tiba-tiba meninggi.
“Anak-anak yang dibuang orangtuanya.  Anak-anak yang bikin malu keluarganya. Anak-anak yang umurnya tidak lama!”
Ibuku mengimbangi dengan perlahan.
“Ssstt.. Mabak Wid… ada Dewa…”
Maka Mbak Wid pun bicara tentang diriku.
“Duuuhhh, Renjaniiii, Renjani… Saya  tahu kamu sangat sayang kepada Dewa, tapi anak itu tidak mengerti omongan kita.  Itu anak tidak mengerti apa-apa.  Dia bukan saja jaringan otaknya rusak, tapi juga autistik.  Matanya terbuka tapi tidak melihat.  Telinganya tidak mendengar.  Kamu sendiri kan sudah melihat hasil test-nya.”
(BTB: 18)
Renjani pernah mengalami hal yang membuatnya trauma pada laki-laki, yaitu  perkosaan.  Ia pernah diperkosa oleh guru balletnya dulu.  Hal ini membuatnya takut untuk jatuh cinta pada laki-laki dan lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk merawat anak-anak tunadaksa dengan mendirikan Rumah Asuh Ibu Sejati.  Trauma ini juga membuatnya membatasi diri untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki termasuk Bhisma.  Padahal dalam hatinya, Renjani mencintai Bhisma. Akan tetapi, ia tidak berani untuk menerima cinta Bhisma dengan alasan trauma dan perbedaan usia yang cukup jauh antara dirinya dengan Bhisma.
Aku baru akan mengetahui pergulatan Bhisma itu kelak, tetapi ibuku sekarangpun ternyata juga memikirkan Bhisma.  Di ruang lilin, ibuku menjawab pertanyaan Mbak Wid apakah Bhisma akan menjadi jodohnya.
“Mana mungkin Mbak, umur saya delapan tahun lebih tua dari dia, dan saya sudah merasa sampai di masa depan saya.  Di sini.  Di rumah ini.  Bersama Dewan dan bayi-bayi lainnya.  Saya merasa sudah mapan.  Tapi memang sekarang ketakutan…”
………………………………………….
“Saya… saya…” tapi ibuku segera mengalihkan pikiran, “yang saya suka dari dia, sejak awal dia tidak pernah menganggap Dewa sebagai anak yang punya kelainan. “Saya… saya…” tapi ibuku segera mengalihkan pikiran, “yang saya suka dari dia, sejak awal dia tidak pernah menganggap Dewa sebagai anak yang punya kelainan.  Sejak awal berkenalan dengan Dewa, Dewa diajak omong.  Diajak ngobrol.  Persis seperti saya”
Namun Mbak Wid tetap mengejar.
“Hatimu bilang apa? Renjani, dia laki-laki baik.  Bukan jenis yang cuma jongkok di pertigaan.  Jangan biarkan masa lalumu menghalangi masa depanmu.”
Mbak Wid menyebut-nyebut masa lalu, membuat ibuku teringat masa lalu, yang begitu menyakitkan bagai tusukan sembilu.
(BTB: 128-129)
c.    Bhisma
Bhisma digambarkan sebagai sosok pemuda berusia 23 tahun, seorang mahasiswa jurusan musik yang pandai memainkan biola.  Bhisma ternyata juga peduli terhadap anak-anak tunadaksa. Bhisma melihat Bhisma dan bayi-bayi cacat lainnya sebagai ciptaan Tuhan yang indah tapi tidak diberkati dengan kehidupan yang berguna. Kemudian  ia menciptakan lagu berjudul Biola Tak Berdawai untuk anak-anak tunadaksa itu.  Semenjak pertemuannya dengan Renjani di acara resital musik, ia mulai jatuh cinta pada Renjani.  Namun cintanya tidak bisa dibalas oleh Renjani sehingga Bhisma memohon-mohon.  Berikut beberapa kutipan yang menggambarkan sosok Bhisma:
Wajahnya tampan dengan garis-garis muka yan terpahat dengan jelas seperti turun dari relief seorang ksatria di dinding candi.  Matanya dalam sorotannya tajam. Sepintas lalu ia tampak span dan manis – tapi jika permainan biolanya boleh dianggap sebagai pernyataan jiwa, terdengar sesuatu yang tidak terlalu manis, bahkan terbayang adanya suatu dunia yang liar di mana berbagai anasir masih bertarung untuk menguasai jiwanya.
(BTB: 103)
“Berapa umurmu?” Mbak Wid bertanya kepada Bhisma.
“Tahun ini saya dua puluh tiga.”
(BTB: 113)
Bhisma, dengan usianya yang masih sangat muda, jatuh cinta kepada ibuku yang jauh lebih tua.  Cintanya tidak pernah sempat berkembang, bahkan putus mendadak di tengah jalan, namun selalu ada suatu cara untuk menggapaikan cinta ke tempat tujuannya, karena hanya dalam cinta manusia bisa mengandaikan dirinya bermakna.
(BTB: 189)
d.   Mbak Wid
Mbak Wid adalah seorang wanita separuh  yang berprofesi sebagai dokter dan mengabdikan dirinya untuk merawat anak-anak tunadaksa di Rumah Asuh Ibu Sejati.  Ia memiliki masa lalu yang suram.  Mbak Wid terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai pelacur.  Ibunya berkali-kali menggugurkan kandungannya dan hanya Mbak Wid seorang lah yang berhasil lahir.  Masa lalunya inilah yang membuatnya prihatin akan keadaan anak-anak yang dibuang.  Selain sebagai dokter, Mbak Wid yang memiliki indera keenam ini juga sering kali meramal dengan menggunakan kartu tarot.
“Aku hidup dengan usaha keras melupakan masa laluku
dan betapa berat usaha melupakan itu bagiku.  Sebagai mahasiswa kedokteran, di bagian anak pula, begitu sering aku berurusan dengan nasib bayi-bayi malang.  Semua itu hanya membawaku kembali ke masa laluku.  Bayi-bayi dan ibu hamil hanya mengingatkan kepada penguguran.”
(BTB: 67)
Apabila malam tiba, Mbak Wid bagaikan memasuki suatu upacara.  Mbak Wid memang menikmati permainan kartu tarot bagaikan menghayati suatu upacara, karena baginya misteri masa depan merupakan daya tarik yang luar biasa. Maka, ketika permadani malam terbentang di langit, seusai makan Mbak Wid akan duduk di sana, di meja marmer, menggelar kartu-kartu tarot, mengenakan busana serba hitam dengan rambut terurai, meramalkan masa depan seseorang.  Dalam cahaya kekuningan yang berat dan menekan, tindak meramal menjadi sesuatu yang mendebarkan.
(BTB: 85)
4.5  Sudut Pandang Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
            Pengarang dalam novel Biola Tak Berdawai mengambil sudut pandang orang pertama pelaku sampingan dalam menyajikan cerita karena menggunakan subjek “aku”.  Dalam hal ini tokoh yang berlaku sebagai orang pertama pelaku sampingan “aku” adalah Dewa.  Dewa hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian “dibiarkan” berkisah sendiri yag kemudian menjadi tokoh yang ceritanya diutamakan, yaitu Renjani dan Bhisma.  Ini dikarenakan merekalah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan Dewa lebih banyak bertindak sebagai pencerita daripada menceritakan dirinya sendiri.
            Dewa memang salah satu tokoh utama cerita, namun isi cerita lebih banyak mengemukakan mengenai kisah Renjani dan Bhisma maupun kehidupan bayi-bayi atau anak-anak tunadaksa. Setelah cerita mengenai tokoh yang diutamakan selesai, maka orang pertama sampingan (Dewa) muncul kembali namun hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.  Namun, tidak menutup kemungkinan turut serta dalam berlangsungnya cerita tentang tokoh yang diutamakan.


4.6  Gaya Bahasa dalam Novel Biola Tak Berdawai
Setiap pengarang memiliki ciri khas masing-masing dalam menggunakan gaya bahasa pada sebuah karya sastra seperti prosa.  Dalam hal ini, Seno Gumira Adjidarma menggunakan gaya bahasa yang bersifat menarik simpatik pembaca pada cerita dalam novelnya Biola Tak Berdawai.  Seno dengan piawai menggunakan diksi-diksi yang sederhana dan juga puitis. Di awal bab pertama saja, Seno sudah menarik perhatain pembaca dengan keindahan olahan kata-katanya seperti kutipan berikut:
Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya – tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia it tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai…
(BTB: 1)
            Gaya bahasa dalam novel ini kebanyakan menciptakan suasana yang membangun emosional pembaca pada adegan-adegan baik itu adegan saat Bhisma berusaha memeluk Renjani, adegan saat Bhisma tahu bahwa Renjani meninggal, maupun saat Dewa dan Bhisma berada di atas makam Renjani.  Kepuitisan begitu kental mewarnai cerita sehingga menimbulkan kesan indah bagi pembaca.

4.7  Amanat dalam Novel Biola Tak Berdawai
Cerita dalam novel Biola Tak Berdawai mengandung tema sosial yang kental meski diselimuti cerita cinta antara Renjani dan Bhisma. Terlebih novel ini mengangkat cerita mengenai nasib anak-anak tunadaksa yang dibuang dan disia-siakan begitu saja oleh orang tuanya.  Dilihat dari keseluruhan isi cerita, dapat dikatakan bahwa pengarang ingin memberikan pesan atau amanat untuk pembaca untuk lebih mengeksplorasi nilai-nilai dan menumbuhkan kepedulian sosial yang semakin lama semakin pudar.  Pengarang ingin menimbulkan kepedulian pambaca terhadap nasib anak-anak tunadaksa yang terlantar.
Selain itu, dari kisah kehidupan masa lalu Renjani dan Mbak Wid, pembaca dapat mengambi pelajaran bahwasanya masa lalu itu dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran hidup dan menjadi pertimbangan untuk membuat kehidupan jauh lebih baik.  Misalnya saja pembaca dapat mencontoh tindakan Renjani dan Mbak Wid yang melakukan tindakan positif dengan mengabdikan diri untuk merawat dan mengasuh anak-anak tunadaksa.

Unsur Ekstrinsik
4.8  Subjektivitas Individu Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
            Subjektivitas pengarang dalam hal ini meliputi isi cerita, teknik penyampaian cerita dan gaya dalam penulisannya. Novel Biola Tak Berdawai yang diangkat dari sebuah film garapan sutradara Sekar Ayu Asmara ini berhasil tercipta dari seorang sastrawan yang sudah banyak menelurkan karya ini.  Seno Gumira Adjidarma selaku pengarangya tentunya memiliki pandangan tersendiri mengapa ia setuju menulis novel dengan tema sosial.  Menurut pandangan Kafi Kurnia dalam kata pengantar novel, merupakan beban yang super berat ketika ia mencari penulis yang bisa menerjemahkan jiwa dari film Biola Tak Berdawai secara utuh ke dalam sebuah novel, dan Seno lah yang berhasil melakukannya.
            Seno yang sudah sering berkarya, khususnya di bidang prosa agaknya sangat setuju  dengan pemikiran-pemikiran yang ada dalam film Biola Tak Berdawai ini.  Lelaki yang menyukai tema sosial dalam menuliskan sebuah karya ini memiliki pandangan yang sejalan dengan cerita dalam film, yakni memandang anak-anak tunadaksa sebagai suatu keindahan yang tertutup dan terabaikan oleh banyak orang.  Ia dalam novelnya mencoba membuka perasaan pembaca untuk bisa peduli.  Seno pun juga menampilkan isi cerita dengan teknik dan gaya penulisannya yang khas.


4.9  Psikologi Pengarang dalam Novel Biola Tak Berdawai
Dalam menelurkan sebuah karya, psikologi pengarang merupakan salah satu aspek yang memperngaruhi isi karya.  Psikologi berhubungan dengan pemikiran pengarang.  Seno Gumira Adjidarma memang bukan pencetus ide cerita.  Ia hanya menginterpretasi sebuah film ke dalam sebuah karya prosa berupa novel. Rupanya pemikiran isi  cerita dalam film itu sejalan dengan pemikirannya, sehingga ia dapat dengan mudah menuliskan cerita yang ada di film ke dalam bentuk yang berbeda.  Ini merupaka sebuah proses kreatif dari seorang penulis.

4.10  Lingkungan Pengarang yang Masuk dalam Novel Biola Tak Berdawai
Pengaruh lingkungan baik itu lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sosial pengarang, sangat mempengaruhi isi sebuah karya sastra khususnya prosa.  Berbeda dengan filmnya, Seno menambahkan banyak degresi dengan menyelipkan cerita-cerita wayang Jawa ke dalamnya.  Hal ini dikarenakan ia merupakan orang Jawa dan tinggal di lingkungan yang mayoritas juga merupakan orang Jawa.  Lingkungan tempat tinggalnya inilah yang menjadikannya memiliki bahan untuk menulis cerita-cerita perwayangan yang umumnya tumbuh di masyarakat Jawa.
Seno Gumira Adjidarma pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (1994), Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia (2000) dan berhasil sampai pada program Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia (2005).  Ia tinggal di lingkungan akademis sebagai dosen, namun ia juga turut berkecimpung di bidang jurnalistik. Lingkungan sosial tempatnya berinteraksi ini juga mempengaruhi gaya penulisannya.  Misalnya saja ia banyak menggunakan diksi-diksi dan gaya bahasa yang puitis dalam novelnyaBiola Tak Berdawai ini.  Ini dikarenakan kebiasaannya yang terbelih dahulu sering bersentuhan dengan dunia sastra baik dalam lingkungan sosial akademisnya maupun lingkungan sosial pekerjaannya.  Dapat dikatkan, dengan kata lain lingkungan pengarang dapat mempengaruhi karyanya dari berbagai aspek.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik pada novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Adjidarma adalah sebagai berikut.
Unsur intrinsik:
1.      Tema yang diangkat dalam novel Biola Tak Berdawai adalah tema sosial yang dibumbui tema percintaan.
2.      Plot atau alur dalam novel Biola Tak Berdawai menggunakan alur campuran.  Novel ini berdasarkan kriteria waktu menggunakan plot regresif, bersadarkan kriteria jumlah menggunakan plot ganda, dan berdasarkan kriteria kepadatan termasuk dalam plot longgar.
3.      Latar terbagi atas latar waktu, tempat suasana dan sosial.  Latar waktu pada novel ini hanya dijelaskan secara singkat seperti (malam hari). Latar tempat berpindah-pindah seperti di panti, pantai, sawah, candi dan makam.
4.      Penokohan
·         Berdasarkan pentingnya keterlibatan dalam cerita, tokoh utamanya adalah Renjni, Bhisma dan Dewa,  sedangkan tokoh sampingannya adalah Mbak Wid.
·         Dilihat dari fungsi penampilan tokoh, yang menjadi tokoh protagonis adala Bhisma, Dewa dan Mbak Wid, sedangkanmenjadi  yang tokoh antagonis adalah Renjani.
·         Berdasarkan perwatakannya, yang menjadi tokoh sederhana adalah Dewa dan Bhisma, sedangkan Renjani dan Mbak Wid merupakan tokoh bulat.
·         Berdasarkan perkembangan watak, yang menjadi tokoh statis adalah Dewa, Mbak Wid dan Bhisma.
·         Berdasarkan pencerminannya dengan kehidupan nyata, seluruh tokoh dalam novel ini merupakan tokoh tipikal.
5.    Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini kebanyakan menonjolkan unsur kepuitisan.
6.      Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah menumbuhkan  kepedulian sosial.
Unsur Ekstrinsik:
1.        Subjektivitas individu pengarang mempengaruhi isi, teknik penulisan dan gaya pada novel Biola Tak Berdawai.
2.        Psikologi pengarang mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan proses kreatif dalam cerita yang disuguhkan dalam novel Biola Tak Berdawai.
3.        Lingkungan sosial mempengaruhi penulisan karya sastra dari segala aspek.

5.2 Saran
            Secara keseluruhan, novel ini dapat dikatakan memiliki cerita yang unik dan berbeda dengan cerita-cerita yang ada pada novel kebanyakan.  Pengarang mengolah cerita mengenai anak-anak tunadaksa yang hampir atau mungkin sudah terlupakan kehadirannya oleh masyarakat. Hal ini tentu saja dapat menumbuhkan kepedulian sosial bagi pembaca.
            Selain mengenai kepedulian sosial, novel yang dibumbui kisah cinta ini banyak sekali mengandung pelajaran bagi pembaca seperti indahnya saling berbagi, alangkah baiknya jika ada masa lalu yang suram apabila digantikan dengan kegiatan yang berguna, dan lain sebagainya.  Cerita-cerita semacam ini perlu dikembangkan oleh pengarang-pengarang lain, atau dengan kata lain jangan terlalu sering mengangkat cerita dari tema yang sudah terlalu banyak muncul.  Hadirlah dengan sesuatu yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Adjidarma, Seno Gumira. 2004.  Biola Tak Berdawai. Jakarta: AKUR.
Aminuddin. 2010.  Pegantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
            University Press.
Sugiarti. 2002. Pengetahuan dan Kajian Prosa Fiksi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Tim Balai Pustaka, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesustraan. Jakarta: PT Gramedia.
Rosyid, Abdur. 2009. “Unsur-Unsur Intrinsik dalam Prosa”. (online)

Komentar