BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Istilah ‘linguistik’ berasal dari bahasa
Inggris linguistics, artinya ilmu yang mempelajari bahasa. Linguistik sering
juga di sebut sebagai linguistik umum. Artinya, ilmu pengetahuan yang
mempelajari (sistem) bahasa pada umumnya.
Secara etimologis, istilah
“sintaksis” berasal dari bahasa Yunani sun
‘dengan’ dan tattein ‘menempatkan’. Pengertian secara lebih mudah, sintaksis
adalah menempatkan bersama-sama, kata-kata menjadi kelompok kata, dan kelompok
kata menjadi kalimat.
Kata semantik sebenarnya merupakan
istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna.Semantik dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Yunani ”sema” (kata benda) yang berarti „tanda‟
atau ”lambing”. Kata kerjanya adalah “semaino” yang berarti “menandai” atau
“melambangkan”. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda
linguistik (Perancis : signé linguistique).
Semantik merupakan salah satu cabang
linguistik yang berada pada tataran makna. Semantik sebagai cabang ilmu bahasa
mempunyai kedudukan yang sama dengan cabang-cabang ilmu bahasa yang lainnya.
Cakupan linguistik dengan pendekatan
struktural ini dikaji pada linguistik mikro yang kajiannya pada struktur
internal suatu bahasa tertentu atau
struktur internal suatu bahasa pada umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem
bahasa, maka dalam linguistik mikro ada subdisiplin linguistik fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Studi linguistik mikro ini
sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah
struktur internal bahasa itu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
batasan dan ciri linguistik?
2. Apa
kedudukan keilmuan linguistik?
3. Apa
tujuan dan tugas linguistik?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui batasan dan ciri linguistik.
2. Untuk
mengetahui kedudukan keilmuan linguistik.
3. Untuk
mengetahui tujuan dan tugas linguistik.
D.
Manfaat
1.
Menambah pengetahuan
dan wawasan penulis dan pembaca.
2.
Memahami tentang
batasan dan ciri linguistik, kedudukan keilmuan linguistik, tujuan dan tugas
linguistik, dan cakupan linguistik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BATASAN
DAN CIRI LINGUISTIK
a. Batasan
Sintaksis
1. Sintaksis
adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk
menggabungkan kata menjadi kalimat (Stryker, 1969 : 21)
2. Analisis
mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas
disebut sintaksis (Bloch and Trager, 1942 : 72)
3. Sintaksis
adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat
(Ramlan, 1976 : 57)
Ciri-ciri Sintaksis yaitu a) tidak
melampaui batas fungsi, b) intonasinya belum final, c) salah satu unsur katanya
ada yang menjadi pokok, d) konstruksi antarkata bersifat renggang.
b. Semantik
1. Semantik
dimaknai sebagai ilmu arti kata. Webster (1956)
2. The
study of meaning ‘studi tentang makna’, lebih jelas
Ciri-ciri semantic yaitu (a) semantic adalah
kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh
tanda tersebut, (b)
semantik adalah kajian mengenai makna.
B.
KEDUDUKAN
KEILMUAN LINGUISTIK
1. Frasa
(phrasa)
Frasa
adalah konstruksi gramatikal yang dibangun oleh gabungan dua kata atau lebih
yang sifatnya tidak predikatif.
2. Klausa
Klausa
adalah satuan gramatikal yang berkonstruksi predikatif (bisa disertai unsure
lain atau tidak).
3. Kalimat
Kalimat
dapat didefinisikan dari dua sisi, dari bahasa lisan dan bahasa tulis. Kalimat
menurut bahasa lisan adalah keseluruhan pemakaian kata yang mempunyai arti
penuh dan memiliki ciri lagu (intonasi) sempurna. Berdasarkan bahasa tulis,
kalimat yaitu keseluruhan pemakaian bahasa yang mengandung pikiran lengkap,
dimulai dengan huruf kapital, berpola gramatikal dan diakhiri dengan intonasi
selesai (titik).
4. Wacana
Wacana dapat dimaknai satuan
kebahasaan yang berada pada hierarki tertinggi dan terlengkap. Memiliki pola
kohesi dan koherensi yang baik. Wacana dapat direalisasikan dalam bentuk kata,
kalimat, paragraf, atau sebuah tulisan lengkap.
C.
TUJUAN
DAN TUGAS LINGUISTIK
Adapun tujuan dan tugas linguistik diantaranya sebagai
berikut.
a. Deskriptif
dan Eksplanatif
Para linguis yang menekuni bahasa
mempunyai tujuan bukan hanya melukiskan gejala-gejala
struktur dan pembagian-pembagian bahasa, tetapi juga harus menerangkan semua itu. Ada perbedaan antara melukiskan dan
menerangkan, yang kedua ini harus terperas (exhaustive) dan lebih mendalam.
Melukiskan adalah langkah awal sebelum menerangkan. Para linguis tidaklah puas
hanya dengan pemerian atau penyusunan istilah-istilah linguistic seperti: noun,
verb, aktif, pasif, transitif, finite dan non finite, verbal, majemuk,
kompleks, dan sebagainya. Mereka pun tidak hanya mencatat gejala-gejala bahasa,
umpamanya anak-anak kecil tidak bisa mengucapkan bunyi /r/ secara jernih,
anak-anak lebih cepat dalam menguasai bahasa, sedang orang dewasa sebaliknya.
Kalau meraka berhenti pada taraf deskripsi ini, tidaklah banyak yang dapat
dinikmati dari linguistik ini, tiada nilai praktisnya, dan ini berarti kadar
kemandiriannya belum tinggi.
b. Prediktif
dan Pengembangan
Tugas menduga-duga ini tentunya
setelah gejala-gejala yang ada diamati dengan saksama dan disimpulkan.
Kesimpulan ini lalu dijadikan titik tempat para linguis menghentakkan kaki
untuk meloncat dalam menduga-duga dan meramal, atau berhipotesis setelah diuji
kebenarannya menjadi satu teori (tesis). Tesis ini dijadikan landasan untuk
menyusun hipotesis berikutnya. Ini terus berputar.
Meramalkan masa depan tentunya
sulit bila hanya mengandalkan lukisan dan pemerian gejala-gejala tadi. Dengan
demikian, gejala-gejala yang telah diamati dan diterangkan tadi segeralah
diberi konsep-konsep, dalil yang lebih tinggi tarafnya.
c. Tugas
control
Ilmu pengetahuan apapun jenisnya
akhirnya akan bermuara pada (1) pencapaian hal-hal yang dihasrati dan (2)
penghindaran diri dari hal-hal yang tidak diingini. Pencapaian atau
penghindaran sesuatu ini adalah suatu akibat direncanakan dan dikendalikan.
Untuk menghindari kematian, orang yang menderita malaria oleh dokter diberi pel
kina. Dokter mengetahui deskripsi dan eksplanasi penyakit malaria dan pel kina.
Dengan demikian, dia mengendalikan (penghindaran) kematian tadi dengan
mempermainkan kondisi-kondisi yang ada.
D.
CAKUPAN
LINGUISTIK
a. Mikrolinguistik
Mikrolinguistik adalah lingkup
linguistik yang mempelajari bahasa dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu
sendiri, tanpa mengaitkan dengan ilmu lain dan tanpa memikirkan bagaimana
penerapan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mikrolinguistik ini
meliputi bidang dan subdisiplin berikut:
1. Teori-teori
linguistik:
a. Teori
Tradisional
b. Teori
Struktural
c. Teori
Transformasi
d. Teori
Tagmemik
2. Linguistik
Historis/Historis-Komparatif
3. Perbandingan
Bahasa (linguistik Komparatif dan Kontrastif)
4. Deskripsi
Bahasa (Linguistik Deskriptif):
a. Fonetik
b. Fonemik
c. Morfologi
d. Sintaksis
e. Sematik
f. Morfosintaksis
g. Leksikologi
b. Makrolinguistik
Makrolinguistik adalah lingkup
linguistic yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan dunia di luar bahasa,
yang berhubungan dengan ilmu lain dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Makrolinguistik meliputi bidang linguistik interdisipliner dan
bidang linguistik terapan.
1. Bidang
linguistik Interdisipliner
Bidang linguistik interdisipliner
meliputi beberapa subdisiplin/subbidang yaitu:
Fonetik Interdisipliner, Sosiolinguistik, Psikolinguistik, Etnolinguistik, Antropolinguistik, Filologi, Stilistik, Semiotik, Epigrafi, Paleografi, Etologi, Etimologi, dan Dialektologi
2. Bidang
Linguistik Terapan
Bidang linguistik terapan meliputi
beberapa subbidang/subdisiplin yaitu: Fonetik
Terapan, Perencanaan Bahasa, Pembinaan Bahasa, Pengajaran Bahasa, Penerjemahan, Grafonomi atau
Ortografi, Grafologi, Leksikografi, Mekanolinguistik, Medikolinguistik, dan Sosiolinguistik Terapan
(Pragmatik)
A. Cakupan
linguistik dengan pendekatan struktural
Cakupan
linguistik dengan pendekatan struktural ini dikaji pada linguistik mikro yang
kajiannya pada struktur internal suatu
bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pada umumnya.
Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, maka dalam linguistik mikro ada
subdisiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan
leksikologi. Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar
linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu.
1. Fonologi
Bidang linguistik yang mempelajari,
menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi,
yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu
ilmu[4]. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi
dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan
sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan
apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa
dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.
2. Fonetik
Fonetik adalah cabang studi
fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi
tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan
proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu
fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.
Fonetik artikulatoris disebut juga
fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme
alat-alat bicara manusia bekerja dalam mengahasilkan bunyi bahasa serta
bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi
bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Sedangkan fonetik auditoris
mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.
Dari ketiga jenis fonetik ini yang paling berurusan dengan ilmu linguistik
adalah fonetik artikulatoris sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah
bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan
fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris
lebih berkenaan dengan bidang kedokteran.
3. Fonemik
Fonemik
adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa yang dapat atau
berfungsi membedakan makna.
B. Cakupan
linguistik dengan pendekatan fungsional
1.
Linguistik Fungsional
Sistemik
Pada bagian ini, pembaca akan
disuguhi dengan beberapa istilah yang mungkin tidak baru lagi. Istilah-istilah
itu adalah; teks dan konteks, register, transitivitas, modalitas, tema-rema.
Linguistik fungsional Sistemik dikenal sebagai penyedia kerangka deskriptif dan
penafsiran yang sangat berguna untuk memandang bahasa sebagai sumber daya
strategis dan pemberi makna. Persepsi linguistik fungsional adalah bahasa
diperlukan manusia untuk melakukan tiga fungsi, yakni menggambarkan, mempertukarkan,
dan merangkai pengalaman. Ketiga fungsi ini merupakan hakikat hidup dan
kebutuhan manusia normal. Pada dasarnya dalam prespektif linguistik fungsional
bahasa adalah sistem arti dari sistem lain (sistem bentuk dan ekspresi) untuk
merealisasikan arti tersebut. Dua konsep dasar teori linguistik fungsional
adalah: a) bahasa merupakan fenomena sosial yang terwujud sebagai semiotik sosial,
b) bahasa merupakan teks yang konstrual (saling menentukan dan merujuk) dengan
konteks sosial.
Para pakar linguistik sistemik
memiliki minat dan perhatian bagaimana orang memakai bahasa untuk berinteraksi
satu sama lain dalam kehidupan sosial. Minat ini mendorong para pakar
linguistik untuk mengajukan teori tentang bahasa yaitu pemakaian bahasa
bersifat fungsional, fungsinya ialah untuk memberi makna-makna, makna-makna
tersebut dipengaruhi oleh konteks sosial budaya. Dan proses pemakaian bahasa
merupakan proses semiotik, yaitu proses pemberian makna dengan cara memilih.
Konsep fungsional memiliki tiga
pengertian yang saling berhubungan. Pertama, pengertian fungsional adalah
bahasa terstruktur berdasarkan fungsi yang akan dimainkan oleh bahasa dalam
kehidupan manusia. Hal ini disebut fungsional berdasarkan tujuan pemkaian
bahasa, yang kedua adalah metafungsi bahasa, yakni fungsi bahasa dalam
pemakaian bahasa. Yang ketiga, dikatakan bahwa setiap unit bahasa adalah
fungsional terhadap unit yang lebih besar, yang di dalamnya unit itu menjadi
unsur. Dengan pengertian fungsional ketiga ini ditetapkan bahwa morfem
fungsional di dalam kata, kata fungsional dalam grup atau frase, grup atau
frase fungsional dalam klausa, dan klausa menjadi unsur fungsional dalam klausa
kompleks.
2.
Metafungsi Bahasa
Metafungsi bahasa merupakan fungsi
bahasa dalam pemakaian bahasa oleh penutur bahasa. Dalam konsep teoritis
metafungsi memberikan kemampuan kepada seseorang untuk memahami bahasa dengan
dunia luar bahasa dan juga sebagai titik pertemuan yang telah membentuk bentuk
tata bahasa. Dengan kata lain, konsep metafungsi yang menghubungkan antara
bentuk-bentuk internal bahasa dan kegunaannya dalam semiotik konteks sosial.
Sistem semiotik sosial adalah sistem makna yang direalisasikan melalui sistem
linguistik. Sistem semiotik linguistik adalah semantik, yaitu suatu bentuk
realisasi dari semiotik sosial. Bahasa memiliki tiga fungsi dalam kehidupan
manusia yaitu memaparkan, mempertukarkan dan merangkai pengalaman.
Metafungsi memiliki tiga komponen
yaitu ideasional, interpersonal, dan tekstual. Sedangkan jika seseorang
merealisasikan pengalamannya yang bukan merupakan pengalaman linguistik dapat
berupa kenyataan dalam kehidupan manusia atau kejadian sehari-hari. Pengalaman
bukan linguistik dan direalisasikan ke dalam pengalaman linguistik terdiri dari
tiga unsur yaitu proses, partisipan, dan sirkumstan.
C. Linguistik
dikaitkan dengan cabang ilmu lain
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu
yang berkaitan dengan linguistik merupakan pembahasan yang saling berkaitan
satu sama lain yang membahas tentang suatu fenomena bahasa, ragam bahasa,
maupun variasi yang digunakan oleh setiap individu atau sekelompok orang yang
berbeda dalam kelompok social tertentu. Berikut adalah cakupan linguistik
dikaitkan dengan cabang ilmu lain:
1.
Sosiolinguistik
Sosiolinguistik bersasal dari kata
“sosio” dan “linguistic”. Sosio sama dengan kata sosial yaitu berhubungan
dengan masyarakat. Linguistik adalah ilmu
yang mempelajari dan membicarakan bahasa khususnya unsur-unsur bahasa
dan antara unsur-unsur itu. Jadi, sosiolinguistik adalah kajian yang menyusun
teori- teori tentang hubungan
masyarakat dengan bahasa. Berdasarkan pengertian sebelumnya, sosiolinguistik
juga mempelajari dan membahas
aspek-aspek kemasyarakatan bahasa khususnya
perbedaan-perbedaan yang terdapat
dalam bahasa yang berkaitan dengan
faktor-faktor kemasyarakatan ( Nababan 1993:2). Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik tidak hanya mempelajari
tentang bahasa tetapi juga
mempelajari tentang aspek-aspek bahasa yang digunakan oleh masyarakat.
Sosiolinguistik merupakan ilmu
antardisiplin antara sosiologi
dengan linguistik, dua bidang
ilmu empiris yang mempunyai
kaitan erat. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia
didalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada
didalam masyarakat. Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu
terjadi, berlangsung, dan tetap ada. Dengan
memperlajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam satu
masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan dengan lingkungannya,
bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya
masing-masing didalam masyarakat.
Sedangkan lingustik adalah bidang
ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai
objek kajian. Dengan demikian, secara mudah dapat dikatakan bahwa
sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan penggunaan bahasa itu didalam masyarakat. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa
sosiolinguistik adalah bidang
ilmu antardisipliner yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan penggunaan
bahasa itu dalam masyarakat. Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah
antardisipliner yang mempelajari
bahasa dalam kaitannya dengan bahasa
yang digunakan dalam lingkungan tersebut.
Komentar
Posting Komentar