Langsung ke konten utama

Sejarah Perkembangan Sastra Angkatan 45




BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang mekingkupi berbagai macam karya sastra yang berada di Indonesia. Sastra Indonesia di rujuk pada sastra yang dibuat di wilayah kepulauan Indonesia dan pada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa Melayu (bahasa indonesia adalah turunannya).
Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya setiap periode memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain, secara urutan waktu terbagi atas angkatan Pujangga Lama, angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkata 1945, angkatan 1950-1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990-an, angkatan reformasi dan angkatan 2000-an.
Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak lama setelah Jepang masuk ke Indonesia. Jepang melarang menggunakan bahasa belanda dan diganti bahasa Melayu, yang mengakibatkan perkembangan pesat di dunia kesastaraan.
Jepang mengumpulkan para seniman di kantor pusat kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho).  Mereka bersemangat karena disatukan dalam satu organisasi. Dengan berjalannya waktu, mereka mulai sadar bahwa mereka hanya diperalat untuk kepentingan Jepang supaya bisa menguasai Asia. Kesadaran muncul setelah mengetahui janji kosong, kekejaman dan penindasan Jepang terhadap rakyat Indonesia dan pembatasan kreativitas para seniman.
Angkatan 1945 lebih realistik dibanding karya angkatan Pujangga Baru yang romantik-idealistik. Karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar, dan di warnai dengan pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya yang terjadi di Indonesia  Sastrawan angkatan 45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan 45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Karya sastra angkatan  ini,yaitu Kerikil Tajam karya Chairil Anwar (1949), Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949), dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain Menuju Roma kaya Idrus (1948). Karya sastra ini dikenal sebagai karya sastra yang baru karena berhasil meletakan identitas indonesia dalam setiap karyanya, tidak seperti angkatan sebelumnya yang dipengaruhi oleh pengaruh asing.
Gaya dari sastra ini lebih bersifat ekspresif dan revolusioner serta bersifat nasionalis. Sastrawan pada angkatan ini juga dikenal sebagai sastrawan yang tidak berteriak tetapi melaksanakan. Sastra angkatan 45 juga bersifat wajar karena menggambarkan kehidupan sewajarnya dan memperkenalkan tokoh-tokoh dalam gaya yang dramatis, tidak mementingkan analisis fisik tetapi menonjolkan kejiwaan melalui percakapan antar tokoh.
Angkatan 45 merupakan salah satu periodisasi dalam sastra Indonesia. corak ini timbul karena adanya reaksi terhadap sastra yang menghamba pada pemerintahan yang menghamba pada pemerintahan Jepang di Indonesia dan beberapa sastrawan yang tergabung dalam Keimin Bunka Shidosho yang juga disebut sebagai kacung jepang.
Adapun pembagian periodisasi sastra menurut para ahli yaitu Buyung Saleh, HB. Jassin, Nugroho Notosusanto, dan Ajip Rosidi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra yang merupakan cabang ilmu satra yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra Jawa, dan sejarah sastra Inggris.
Dalam jangka waktu yang relatif panjang tercatat munculnya secara besar jumlah persoalan sastra yang erat kaitannya dengan perubahan zaman dan gejolak politik-sosial-kebudayaan yang secara teoritis dipercaya besar pengaruhnya terhadap warna kehidupan sastra. Masalah itu biasanya terkait dengan teori periodisasi atau pembabakan waktu sejarah sastra.

B.       Rumusan  Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1.         Bagaimana perkembangan  sastra angkatan 45?
2.         Bagaimana isi surat kepercayaan gelanggang ?
3.         Apa lembaga kebudayaan masyarakat periode angkatan 45 ?
4.         Bagaimana isi naskah manifes kebudayaan ?

C.      Tujuan Pembahasan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1.         Untuk mengetahui perkembangan sastra angkatan 45.
2.         Untuk mengetahui isi sura kepercayaan gelanggang.
3.         Untuk mengetahui lembaga kebudayaan masyarakat periode angakatan 45.
4.         Untuk mengetahui isi naskah manifes kebudayaan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.      Sastra Angkatan 1945
Karya sastra angkatan ini lebih realistik dari angkatan sebelumnya. Karya sastra angkatan 1945 banyak menceritakan tentang perjuangan merebut kemerdekaan (Nasionalisme). Sastrawan angkatan 45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”.

B.     Ruang Lingkup Karya Sastra Angkatan 1945
Ruang lingkup karya sastra angkatan 1945 adalah dalam lembaga kebudayaan masyarakat dan manifestasi kebudayaan. Dalam lembaga kebudayaan masyarakat karya sastra angkatan ini membentuk organisasi Keimin Bunka Shidoso atau Kantor Pusat Kebudayaan yang bertugas memobilisasi berbagai potensi seni dan budaya untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya yang dikobarkan Jepang. Organisasi ini bertujuan menciptakan kesenian Indonesia baru, diantaranya dengan jalan menyesuaikan dan memperbaiki kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Sedangkan dalam manifestasi kebudayaan merupakan bentuk respon dari teror-teror dalam ranah budaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).















BAB III
PEMBAHASAN


A.      Sejarah Perkembangan Sastra Angkatan 45
Tahun 1942 dimulainya pengambilan kekuasaan Jepang di Indonesia. Sejak tahun itu terjadi perubahan besar-besaran  termasuk di dunia sastra. Pujangga Baru berhenti dan Balai Pustaka telah terhenti karena Belanda telah tumbang. Kemudian muncullah angkatan sastra baru yaitu sastra angkatan 45. Angkatan 45 melahirkan karya sastra yang romantis.
Dalam waktu singkat Indonesia menghasilkan banyak karya sastra besar. Pengalaman hidup merekalah yang membuat karya sastra ini besar. Seperti sajak-sajak Chairil Anwar, roman-roman Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis dan Achadiat Kartamiharja. Nama “Angkatan45” diberikan tahun 1949 oleh Rasihan Anwar, meski tidak disetujui banyak sastrawan. Karena kurang pantas ditujukan kepada pengarang karena sebelumnya diberikan kepada para pejuang. 4 tokoh utama yang sering dianggap sebagai pelopor Angkatan 45 yaitu Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan Idrus.

B.       Surat Kepercayaan Gelanggang
Angkatan 45 tidak hanya kaum sastrawan tetapi seniman pelukis seperti S. Sudjojono, Henk Ngantung, Mochtar Apin, Baharuddin, dan para musikus seperti Binsar  Sitompul dan Amir Pasaribu.
Perkembangan Angkatan 45 diterbitkan melalui majalah :
1.             Panca Raya (1945-1947).
2.             Pembangunan (1946-1947).
3.             Pembaharuan  (1946-1947).
4.             Nusantara (1946-1947).
5.             Gema Suasana (1948-1950).
6.             Siasat (1948-1950) dengan lampiran kebudayaan Gelanggang.
7.             Mimbar Indonesia (1947-1959) dengan lampiran Zenith.
8.             Indonesia (1949-1960).
9.             Pujangga Baru (diterbitkan lagi 1948, berganti konfrontasi 1954).
10.         Arena (1946-1948).
11.         Seniman (1947-1948).


Isi Surat Kepercayaan Gelanggang sendiri berbunyi :
“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan. Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pemikiran kami.
Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli, yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.”

C.      Lembaga Kebudayaan Masyarakat
Datangnya tentara Jepang tahun 1942 membuat majalah Pujangga Baru dilarang oleh penguasa Jepang. Perjalanan sastra Indonesia pada masa Jepang adalah zaman dimana semua kegiatan sastra tunduk pada lembaga bikinan Jepang yang bernama Keimin Bunka Shidoso.
Keimin Bunka Shidoso atau Kantor Pusat Kebudayaan yang bertugas memobilisasi berbagai potensi seni dan budaya untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya yang dikobarkan Jepang. Di bidang seni budaya dibentuklah pusat kebudayaan sebagai penghimpun potensi kreatif seniman budayawan, terutama yang berkedudukan di Jakarta. Kantor itu mulai berdiri l April 1943 untuk menghimpun potensi seniman dan budayawan sebagai kekuatan propaganda perang Dai Nippon. Mulanya adalah Badan Pusat Kesenian Indonesia, sebuah organisasi yang dipimpin oleh Indonesia sendiri dengan tujuan  “menciptakan kesenian Indonesia baru, diantaranya dengan jalan menyesuaikan dan memperbaiki kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru”. Keimin Bukna Shidosho sebagian pengurusnya adalah tokoh dari Badan Pusat  Kesenian Indonesia. Ini adalah cara untuk mengambil hati dan mengadakan kerjasama dengan ahli-ahli seni Indonesia.
Karya sastra pada saat itu harus bernuansa Perang Asia Timur Raya. Konsep Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya untuk mendirikan negara-negara Asia dibawah pimpinan Jepang. Kekaisaran Jepang memakai slogan Asia untuk Orang Asia untuk mengambil hati penduduk setempat.
Beberapa karya sastra yang digunakan untuk menambah semangat Asia Timur Raya diantaranya Tcinta Tanah Sutji karangan Nur Sutan Iskandar, palawidja karangan Karim Halim, dan Angin Fudji karangan Umar Ismail.
Semboyan-semboyan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya dan semua janji dan pikiran-pikiran cita-cita yang kelihatannya bagus dan indah ternyata hanya balon-balon yang indah berisi angin.

D.      Manifestasi Kebudayaan
Manifes kebudayaan adalah konsep kebudayaan yang mengusung humanisme universal. Manifes ini merupakan bentuk respon dari teror-teror dalam ranah budaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Isi naskah Manifes Kebudayaan  :
“ Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik kebudayaan Nasional kami.
Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan  salah satu sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
Dalam melaksanakan kebudayaan Nasional, kami berusaha menciptakan dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah  masyarakat bangsa Indonesia di tengah masyarakat bangsa-bangsa Pancasila adalah falsafat kebudayaan kami.”

Naskah manifes kebudayaan selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada tanggal 17 Agustus 1963. Naskah tersebut dapat diterima pada 23 Agustus 196 3.  Naskah tersebut kemudian diperbanyak dan disebar ke kalangan seniman untuk dipelajari sebagai landasan ideologi.
Manifes kebudayaan dijabarkan menjadi Manifes Kebudayaan, Penjelasan Manifes Kebudayaan, dan Literatur Pancasila.

















BAB IV
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Para sastrawan pujanga baru angkatan 45 membuat karya-karyanya mendominasi keadaan pada  saat itu. Sehingga karya-karyanya cepat dikenal oleh masyarakat dan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu karya-karya tersebut menjadi karya sastra yang besar dan menjadi salah satu kekayaan bangsa Indonesia itu sendiri.

B.       Saran
Bagi semua mahasiswa, diharapkan dapat memahami dan mengikuti perkembangan karya sastra Indonesia sehingga dalam pembelajaran dapat maksimal.






















DAFTAR PUSTAKA



Yudiono. Zolo. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Semarang: Grasindo Jakarta
























Komentar