TEORI STRUKTURALISME FORMALIS DAN STRUKTURALISME DINAMIS Pada Cerpen “Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong” karya GUNTUR ALAM
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Strukturalisme adalah satu aliran filsafat yang muncul
di Perancis. Istilah “strukturalisme ” sering membingungkan berbagai kalangan.
Hal ini disebabkan istilah “struktur” sendiri
banyak digunakan dalam
berbagai bidang atau disiplin begitu juga dengan istilah strukturalisme.
Istilah strukturalisme tidak hanya digunakan dalam bidang kesusastraan, tetapi
juga dalam bidang-bidang yang lain, seperti biologi, psikologi, sosiologi,
sejarah, filsafat, bahasa atau linguistik, dan disiplin ilmu yang lainnya.
Menemukan paham atau asal-usul pemikiran strukturalisme juga akan menemukan
berbagai kesulitan sebab bapak strukturalisme itu sendiri adalah seorang
antropolog. Sebaliknya, sang bapak strukturalisme Claude Levi Strauss sendiri
juga terpengaruh atau menggunakan konsep dari bapak linguistik, yakni Ferdinan
de Saussure, Lingkaran Linguistik Praha, dan Formalisme Rusia. Strukturalisme
sendiri mulai mendapat banyak perhatian sekitar tahun 1960-an sebagai satu mode
berpikir dalam bidang filsafat di Perancis.
Strukturalisme pada dasarnya merupakan cara berpikir
tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi
struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra di asumsikan sebagai
fenomena yang memiliki struktur yang paling terkait satu sama lain.
Strukturalisme sebenarnya merupakan paham filsafat yang memandang dunia sebagai
realitas berstruktur.
Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai
unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antar hubungannya, di
satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya, di pihak
yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan tersebut
tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan
kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan.
Strukturalisme formalis, lebih menekankan pada
hipotesis-hipotesis yang telah dibangun sebelumnya.
Strukturalisme formalisme mempunyai tujuan
pokok formalisme studi ilmiah yaitu studi ilmiah yang mencakup tentang sastra
dengan berbagai unsur unsur sebagai berikut : (1) kesastraan Puitika, merupakan
satra yang berbentuk sebuah puisi, (2) asosiasi, merupakan pembentukan hubungan
atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra, (3) oposisi,
merupakan pertentangan antara dua unsur
berbahasa untuk memperlihatkan perbedaan.
Strukturalisme
dinamik lebih merupakan pengembangan strukturalisme murni atau klasik.
Strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subyektif dari pengaran, mengakui
peran sejarah serta lingkungan sosial. Perbedaan pokok antara strkturalisme
genetik dan dinamik terletak pada subyek yang diteliti. Strukturalisme dinamik
lebih menekankan pada karya-karya masterpiece,
karya mainstream dan karya agung.
Strukturalisme dinamik lebih fleksibel dalam menerapkan teori penelitian. Teori
yang dipakai biasanya merupakan gabungan sedikit-sedikit antara teori satu
dengan yang lain. Penelitian ini menolak asumsi-asumsi strukturalisme murni
yang sangat menolak kesadaran subjektif, takluk pada sistem, menolak
historisme, mengidolakan sinkronik dan anti humanisme. Atas dasar ini struktur
dinamik justru mengenalkan penelitian sastra
dalam kaitannya dengan sistem tanda. Caranya adalah menggabungkan kajian otonom
karya sastra dan semiotik. Kajian otonom, dilakukan secara intrinsik dan kajian
semiotik akan mempresentasikan teks sastra sebagai ekspresi gagasan, pemikiran,
dan cita-cita pengarang. Gagasan tersebut dimanifestasikan dalam tanda-tanda
khusus. Kepaduan antara struktur otonom dan tanda ini merupakan wujud bahwa
struktur karya sastra bersifat dinamik.
Menurut
Endraswara (2013: 63) menyatakan bahwa :
penelitian
strukturalisme dinamik mencakup dua hal yaitu: (1) membedah karya sastra yang
merupakan tampilan pikiran, pandangan, dan konsep dunia dari pengarang itu
sendiri dengan menggunakan bahasa sebagai tanda (ikonik, simbolik, dan
indeksikal) dari beragam makna; (2) analisis teks sastra yang berkaitan dengan
pengarang dengan realitas lingkungannya.
Selain
itu fokus penelitian strukturalisme dinamik yaitu : (1) agak sedikit
terpengaruh semiotik dan telaah (2) berhubungan sosiologi sastra. Hal ini
berarti bahwa strukturalisme dinamik agak sedikit mengalami “kekacauan”, dengan
cara mencampuradukkan model penelitian sastra.
B. Rumusan
Masalah
1.
Pengertian
Strukturalisme Formalis
2.
Pengertian
Strukturalisme Dinamis
3. Bagaimana strukturalisme formalis dan dinamis pada Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian strukturalisme formalis
2.
Untuk
mengetahui pengertian strukturalisme dinamis
4. Untuk mengetahui analisis cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Strukturalisme Formalis
Menurut
Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna
Sebagai teori modern mengenai sastra,
secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor,
sebagai berikut :
1. Formalisme
lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19
yang memegang teguh prinsip – prinsip kausalitas, dalam hubungan ini sebagai
reaksi terhadap studi biografi.
2. Kecenderungan
yang terjadi dalam ilmu humaniora, di mana terjadinya pergesran dari paradigm
diakronis ke sinkronis.
3. Penolakan
terhadap pendekatan tradisional yang selalu
memberikan perhatian terhadap hubungan
karya sastra dengan sejarah, sosiologi, dan psikologi.
Strukturalisme
formalis, lebih menekankan pada hipotesis-hipotesis yang telah dibangun
sebelumnya. Fokus analisis adalah pada efek-efek estetik yang dihasilkan oleh
sarana-sarana sastra, dan bagaimana kesastraan dibedakan dengan serta
dihubungkan dengan ekstra sastra. Dalam kaitan sarana estetis dipahami
sebagaimana sarana ungkapan gagasan manusia kedalam bentuk khusus. tujuan pokok
formalisme studi ilmiah yaitu studi ilmiah yang mencakup tentang sastra dengan
berbagai unsur unsur sebagai berikut :
1. kesastraan Puitika, merupakan sastra
yang berbentuk sebuah puisi,
2. asosiasi, merupakan pembentukan hubungan atau
pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra,
3. oposisi, merupakan pertentangan antara dua unsur berbahasa untuk
memperlihatkan perbedaan.
B.
Strukturalisme Dinamis
Strukturalisme dinamis merupakan pengembangan
strukturalisme murni atau klasik juga.
Menurut Sayuti dalam Endraswara (1994:89)
“...Peneliti
strukturalisme dinamik sekurang kurangnya memiliki dua tugas yaitu: (1) Menjelaskan karya sastra sebagai struktur berdasarkan
unsur-unsur membentuknya. (2) Menjelaskan
kaitan antara pengarang, realitas, karya sastra dan pembaca.
Strukturalisme
dinamik lebih fleksikbel dalam menerapkan teori penelitian. Teori yang di pakai
biasanya merupakan gabungan sedikit sedikit antara teori satu dengan yang lain.
Kedinamisan kajian struktur
sastra tersebut, disebabkan oleh kreatifitas pembaca. Pembaca adalah makhluk yang
mampu masuk kedalam ruang dan pemberi tanda yang bermakna. Biasanya
strukuralisme dinamik, mencakup dua hal yaitu:
1. membedah karya sastra yang merupakan tampilan pikiran,
pandangan, dan konsep dunia dan pengarang itu sendiri enggan menggunakan bahasa
sebagai tanda (ikonik, simbolik, dan indeksikal) dari beragam makna,
2. analisis teks sastra yang berkaitan dengan pengarang
dengan realitas lingkunganya.
Strukturalisme dinamis meliputi unsur instrinsik dan
ekstrinsik, unsur instrinsik meliputi : Tema, alur, penokohan, sudut pandang,
latar/setting, gaya bahasa, dan amanat. Unsur ekstrinsik meliputi : latar
belakang pengarang, nilai moral, nilai agama, dan nilai budaya.
C.
Cerpen
Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong
SEORANG perempuan tua di balik meja mahyong teringat kepada
sebatang lilin merah dalam wadah emas berpuluh-puluh tahun lalu. Lilin merah
itu bertuliskan nama laki-laki dan perempuan di masing-masing ujungnya.
Sebatang lilin yang harus terbakar tanpa terputus. Lilin merah yang akan
menyegel si perempuan dalam pengabdian sebagai istri untuk selama-lamanya, apa
pun yang terjadi. Lilin yang seharusnya terbakar sampai habis, tetapi angin
kecil jahat telah memadamkannya. Dan sejak itu, takdir seperti kesedihan yang
tak pernah kenyang. Si perempuan terus berusaha menyalakan setengah batang
lilin yang tersisa, tapi itu hanya menjadi angan-angan.
Setelah berpuluh-puluh tahun, setelah dia
lebih banyak menelan air mata dan kesedihan, setengah batang lilin merah itu
tak kunjung dapat dia nyalakan. Dia berharap gadis kecilnya bisa menyalakan
lilin merah itu untuknya. Dan dia menunggu, dari tahun ke tahun, sampai dia
merasa gadis kecilnya sudah dewasa dan bisa menjentikkan api dari pemantik.
Saat itu usiaku baru menginjak enam tahun
ketika Popo pertama kali menceritakan tentang seorang perempuan tua di belakang
meja mahyong dan lilin merahnya. Jari-jemarinya yang keriput terus menusukkan
jarum perak ke dalam kain sulaman, membujuk daun, bunga lotus dan
tangkai-tangkainya mekar, sambil bercerita.
“Apa dia begitu mencintai suaminya?”
Popo menghentikan gerakan tangannya, dia
memandangku, lekat. Lalu menatap jauh, keluar jendela. Ke rimbun kembang sepatu
dan mungkin saja menembus tembok pagar rumah, menerobos batas waktu dan masa
lalu.
“Aku tak tahu.” Popo menggeleng. “Aku tak
tahu.” Matanya menjadi sangat gelisah.
“Lalu kenapa dia begitu ingin menyalakan
lilin merahnya kembali?”
Popo menghirup napas. Tercenung. Lalu dia
berbisik, pelan. “Mungkin karena dia ingin menjadi anak yang berbakti. Anak
yang memenuhi janji pada kedua orangtuanya.”
***
SELAIN cerita tentang perempuan di belakang
meja mahyong dan lilin merahnya, Popo sering bercerita tentang anak perempuan
yang tidak patuh, keras kepala dan suka membangkang. Aku tahu sebenarnya Popo
tengah membicarakan ibuku.
“Anak perempuan itu sudah dibawa pergi oleh
hantu. Dia pun sudah menjelma hantu.”
Bila Popo bercerita tentang anak perempuan
yang kabur bersama hantu, aku hanya akan diam. Tak membantah. Tak bertanya.
“Ying-ying, dengarkan baik-baik.” Aku mengangguk.
“Kau jangan jadi gadis pembangkang dan keras kepala. Jika tidak, kau akan
menjadi hantu. Lalu, cayma akan membelah perutmu. Kau tahu apa yang akan keluar
dari perut hantu perempuan yang keras kepala?”
Aku menggeleng. Popo menghirup napas dengan
sangat kuat, seolah oksigen hendak dia habiskan. Aku dapat melihat urat-urat
dan tulang hastanya bergerak.
“Sebutir telur naga yang besar. Telur naga
yang tak diinginkan oleh siapa pun. Bahkan tak ada orang yang mau memakannya
bersama bubur beras.”
Awalnya aku tak tahu bila telur naga yang
Popo maksud adalah aku. Bibi Mei yang bercerita tentang ibu. Bagi Popo, sejak
ibu menolak pertunangan dengan anak laki-laki keluarga Huan, kemudian ibu hamil
oleh laki-laki pujaan hatinya, seseorang yang tak pantas dan patut dijadikan
menantu bagi keluarga Jong, ibuku telah menjadi hantu. Dia benar-benar menjadi
hantu setelah melahirkanku, lalu pergi tak tentu rimba hingga detik ini.
Hantu bagi kami adalah apa-apa yang tak boleh
disebut lagi. Jadi ibuku telah menjelma hantu. Dia belum mati, tetapi sudah
dianggap mati.
Setiap selesai mengisahkan cerita gadis
pembangkang dan keras kepala ini, Popo akan mengambil tanganku, lalu mata
kelabunya akan berlabuh di manik-manik mataku.
“Ying-ying, berjanjilah. Bila aku sudah mati
nanti, jangan sekali-sekali kamu menyebut nama hantu perempuan itu di rumah
ini.”
Lewat manik mata yang basah, aku bertanya,
“Kenapa, Po?”
“Mengucapkan namanya berarti kamu mengencingi
makamku.”
Aku menelan ludah dan mengangguk.
***
Di rumah kami, Popo memiliki meja mahyong
yang sangat indah. Warnanya merah dan berbau harum. Dia menyebutnya kayu meja
mahyong ini hong wu. Aku belum pernah mendengar nama itu. Kupikir rosewood tapi
kata Popo bukan. Meja ini warisan dari ibunya.
Popo sering mengajariku bermain mahyong, tapi
aku tak terlalu berminat. Sebab aku, Bibi dan Nenek Yu—tetangga kami—tak pernah
menang melawan Popo. Dia seperti punya mata lain yang dapat mengetahui semua
biji kartu kami. Dia juga seakan mampu membaca pikiran lawan-lawannya. Bagian
yang kusuka dari permainan mahyong hanyalah saat Popo mengucapkan kata
Pung! dan Chr! Saat itu binar matanya begitu benderang, seakan dia
menemukan kebahagiaan yang bertahun-tahun telah dia cari.
Popo selalu duduk di meja mahyong sudut
timur. Aku pernah bertanya padanya, “Kenapa harus di timur?”
Dia tersenyum dan menjawab dengan suara penuh
kehampaan. “Timur adalah awal segala sesuatu, kata ibuku. Timur tempat matahari
terbit, juga arah datangnya angin.”
Tangannya sibuk memutar biji mahyong dalam
gerakan melingkar. Kata Popo gerakan ini dinamakan mencuci kartu. Biji-biji
mahyong mengeluarkan bunyi mendesis yang dingin saat mereka bersentuhan. Aku
sering merinding bila mendengar gesekan biji-biji mahyong ini, tak tahu kenapa,
aku seperti mendengarkan alunan pilu seorang hantu perempuan yang kesepian.
Mungkin dia gadis pembangkang yang menjelma hantu dalam cerita Popo.
Bila aku menolak ajakan Popo bermain mahyong,
dia akan cemberut dan berkata, “Bagaimana bisa kami main bertiga? Sebuah meja
tak akan berdiri dengan tiga kaki. Harus ada masing-masing kaki di setiap
sudutnya.”
Permainan mahyong sangat rumit menurutku. Aku
harus mampu memperhatikan kartu apa yang dibuang lawan dan mengingatnya dalam
kepalaku.
“Permainan ini mengajarimu strategi.
Bagaimana harus bersikap saat terpuruk. Bagaimana memanfaatkan kesempatan untuk
menyerang. Bagaimana caramu untuk bertahan. Bermain mahyong sama seperti kamu
menghadapi hidupmu.”
Mata Popo berubah semakin hampa. Lalu sekejap
kemudian berkaca-kaca. Dan aku seketika menyadari sesuatu, Popo memerangkap
kesedihan abadi di sudut timur meja mahyongnya. Kesedihan dan kehampaan yang
bergesekan dengan biji-biji mahyong, mengeluarkan desis pilu yang menyayat
kalbu.
***
“BAGAIMANA bisa lilin merah itu padam, Po?”
Aku memberanikan diri bertanya ini ketika
usiaku sudah menginjak lima belas tahun dan Popo masih sering mengulang cerita
tentang perempuan tua di belakang meja mahyong yang berharap dapat menyalakan
kembali lilin merah pernikahannya.
Popo mendongak. Dia menghela napas, usianya
sudah tujuh puluh tahun. Semakin bergelambir wajah Popo, aku semakin jelas
melihat kesedihan yang terperangkap di sana. Duka yang terus bertumbuh seiring
usianya.
“Tokoh cerita kita dinikahkan saat berusia
enam tahun,” dari balik meja mahyong merahnya yang harum, Popo menatapku dengan
kaca-kaca yang mekar di manik matanya. “Awalnya dia tak pernah tahu bila
takdirnya sudah berhenti saat itu. Jalan hidupnya sudah ditentukan dan akan
berakhir menjadi menantu keluarga Jong.”
Aku tercekat, tapi Popo tersenyum, walau
hambar.
Perempuan itu tak punya pilihan. Dia harus
menjalani takdir yang sudah dipilihkan untuknya. Saat usianya tiga belas tahun,
dia pindah ke rumah calon suaminya. Di sana dia belajar menjadi menantu dan
istri yang baik. Dia harus bisa memasak segala macam makanan. Dia harus mahir
menyulam, menjahit, membereskan rumah. Dia bahkan tak bisa membedakan lagi,
apakah dia sedang belajar menjadi istri yang baik atau justru menjadi pembantu
yang baik di rumah itu? Saat usianya tujuh belas tahun, dia dinikahkan dengan suaminya.
Dulu, saat dia mengetahui bila dia sudah
dijodohkan dengan anak laki-laki keluarga Jong, dia menangis sejadi-jadinya.
Dia meratap-ratap pada ibunya, berharap wajahnya menjadi jelek dan ibunya akan
iba. Namun pada akhirnya dia menyadari sesuatu, tak ada yang bisa dia lakukan
lagi. Takdirnya sudah disegel. Dia tak punya pilihan. Bila dia mundur, dia akan
membuat keluarganya malu. Dia tak ingin menjadi gadis pembangkang yang menjelma
hantu.
“Percuma,” Popo mendesis. “Kontrak sudah
dibuat. Perempuan itu harus menikah dengan anak laki-laki keluarga Jong. Walau
pun dia mencintai laki-laki lain. Anak tetangga yang membuat dadanya berdebar
saat berusia dua belas tahun.”
Aku benar-benar menemukan kehampaan yang
abadi di mata dan wajah Popo. Kehampaan yang tersembunyi di balik meja mahyong
merahnya.
“Lalu kenapa lilin merahnya bisa padam?” aku
mengulang pertanyaan yang sama.
Perlahan air mata mengalir di landai pipi
Popo yang keriput.
“Lilin merah itu merupakan ikatan perkawinan.
Lilin itu berarti dia tak boleh bercerai apa pun yang terjadi. Dia tak boleh
menikah lagi walaupun suaminya meninggal dunia. Lilin merah itu menyegelnya
untuk mengabdi kepada suami dan keluarganya untuk selama-lamanya, tanpa
kompromi.”
Aku terdiam dan kulihat air mata semakin
deras meluncur di landai pipi Popo yang keriput. Tak ada isak di sana.
“Tapi dia tak dapat menahan gejolak hatinya.
Dia terlalu muda, jadi dia dibutakan pada cinta pertamanya. Anak laki-laki
tetangga yang telah membuat dadanya lebam karena perpisahan. Dia….” suara Popo
bergetar, aku menunggu. “Dia meniup ujung lilin yang bertuliskan nama suaminya,
saat pesuruh mak comblang tertidur ketika menunggu lilin itu. Dia berharap,
matinya lilin sama artinya matinya pernikahan mereka. Sayangnya, dia lupa
ucapan ibunya. Apa pun yang terjadi, tak akan mengubah takdirnya. Sejak itu dia
menelan kesedihan sepanjang hidupnya.”
Popo berusaha tersenyum, aku terdiam dan tak
tahu harus berkata apa. Popo mengambil tanganku dan menggenggamnya erat.
“Ying-ying, bisakah kamu menyalakan lilin
merah itu untukku? Sebab ibumu tak pernah mau melakukannya.”
Angin kesunyian berembus dari sudut timur
meja mahyong Popo, menggelitik mataku sampai basah dan menampar dadaku hingga
lebam. Dari sudut itu segala sesuatunya berawal, termasuk takdir. Dan aku tak
tahu harus menjawab apa.
D.
Analisis Cerpen
Kajian teori strukturalisme
formalis dan strukturalisme dinamis adalah suatu teori yang menganalisis unsur-unsur pembangun yang ada di dalam karya sastra itu
sendiri.
A.
Unsur
Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur
pembangun yang berasal dari dalam karya sastra. Di antaranya unsur intrinsik
dalam cerpen Lilin Merah di
Belakang Meja Mahyong
1.
Tema
Tema adalah suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal. Berdasarkan uraian tersebut dapat dapat disimpulkan bahwa tema pada cerita pendek yang berjudul berjudul Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong adalah kekecewaan orang tua kepada anaknya karena menolak perjodohan, hal ini dibuktikan ““Tapi dia tak dapat menahan gejolak hatinya. Dia terlalu muda, jadi dia dibutakan pada cinta pertamanya. Anak laki-laki tetangga yang telah membuat dadanya lebam karena perpisahan. Dia….” suara Popo bergetar, aku menunggu. “Dia meniup ujung lilin yang bertuliskan nama suaminya, saat pesuruh mak comblang tertidur ketika menunggu lilin itu. Dia berharap, matinya lilin sama artinya matinya pernikahan mereka. Sayangnya, dia lupa ucapan ibunya. Apa pun yang terjadi, tak akan mengubah takdirnya.........”.
2.
Tokoh
Tokoh adalah sosok atau pelaku
yang mengambil peran dalam sebuah karya sastra. Bentuk penokohan yang paling sederhana
di dalam cerpen adalah pemberian nama. Selain pemberian nama penokohan, juga dapat
membangun dengan kata ganti orang, tegantung pengarang menyikapi sudut
pandangnya. Berikut adalah tokoh dan penokohan yang ada pada cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong,
a.
Popo
Watak : Penyabar dan
pandai bermain mahjong
. Popo menghirup napas dengan sangat kuat,
seolah oksigen hendak dia habiskan. Aku dapat melihat urat-urat dan tulang
hastanya bergerak.
. Dia seperti punya mata lain yang dapat
mengetahui semua biji kartu kami. Dia juga seakan mampu membaca pikiran
lawan-lawannya. Bagian yang kusuka dari permainan mahyong hanyalah saat Popo
mengucapkan kata Pung! dan Chr! Saat itu binar matanya begitu benderang,
seakan dia menemukan kebahagiaan yang bertahun-tahun telah dia cari.
b.
Ying-ying
Watak : suka
bertanya
Aku memberanikan diri bertanya ini ketika
usiaku sudah menginjak lima belas tahun dan Popo masih sering mengulang cerita
tentang perempuan tua di belakang meja mahyong yang berharap dapat menyalakan
kembali lilin merah pernikahannya.
“Apa dia begitu mencintai suaminya?”
Popo menghentikan gerakan tangannya, dia
memandangku, lekat. Lalu menatap jauh, keluar jendela. Ke rimbun kembang sepatu
dan mungkin saja menembus tembok pagar rumah, menerobos batas waktu dan masa
lalu.
“Aku tak tahu.” Popo menggeleng. “Aku tak
tahu.” Matanya menjadi sangat gelisah.
“Lalu kenapa dia begitu ingin menyalakan
lilin merahnya kembali?”
Popo menghirup napas. Tercenung. Lalu dia
berbisik, pelan. “Mungkin karena dia ingin menjadi anak yang berbakti. Anak
yang memenuhi janji pada kedua orangtuanya.”
c.
Anak perempuan Popo
Watak : Keras Kepala
SELAIN cerita tentang perempuan di belakang
meja mahyong dan lilin merahnya, Popo sering bercerita tentang anak perempuan
yang tidak patuh, keras kepala dan suka membangkang. Aku tahu sebenarnya Popo
tengah membicarakan ibuku.
“Anak perempuan itu sudah dibawa pergi oleh
hantu. Dia pun sudah menjelma hantu.”
Bila Popo bercerita tentang anak perempuan
yang kabur bersama hantu, aku hanya akan diam. Tak membantah. Tak bertanya.
“Ying-ying, dengarkan baik-baik.” Aku
mengangguk. “Kau jangan jadi gadis pembangkang dan keras kepala. Jika tidak,
kau akan menjadi hantu. Lalu, cayma akan membelah perutmu. Kau tahu apa yang
akan keluar dari perut hantu perempuan yang keras kepala?”
3.
Alur atau Plot
Alur adalah rangkaian cerita
yang di bentuk oleh tahapan tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita
yang di hadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Berdasarkan
uraian di atas, maka alur cerita dalan cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong adalah alur mundur berikut contohnya:
Setelah
berpuluh-puluh tahun, setelah dia lebih banyak menelan air mata dan kesedihan,
setengah batang lilin merah itu tak kunjung dapat dia nyalakan......
........Saat itu usiaku baru menginjak enam
tahun ketika Popo pertama kali menceritakan tentang seorang perempuan tua di
belakang meja mahyong dan lilin merahnya......
4.
Latar atau
Setting
Latar atau setting adalah suatu
tempat atau kejadian mengenai suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Pada cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong, terdapat beberapa latar atau setting, diantaranya:
a.
Latar Tempat
Latar tempat adalah menggambarkan
lokasi terjadinya peristiwa yang di ceritakan dalam sebuah cerita. latar tempat antara lain
pada cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong, Di
rumah keluarga Popo. Hal ini dibuktikan Di
rumah kami, Popo memiliki meja mahyong yang sangat indah. Warnanya merah dan
berbau harum. Dia menyebutnya kayu meja mahyong ini hong wu. Aku belum pernah
mendengar nama itu. Kupikir rosewood tapi kata Popo bukan. Meja ini warisan
dari ibunya.
b.
Latar Waktu
Adalah menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi.
Sedikitnya ada berapa latar waktu.
Malam
hari
“.......saat pesuruh mak comblang tertidur ketika menunggu
lilin itu.......”
c.
Latar Suasana
Adalah menggambarkan suasana atau budaya yang melatar
belakangi terjadinya adegan atau suatu peristiwa.
Marah
“Kau jangan jadi gadis pembangkang dan keras
kepala. Jika tidak, kau akan menjadi hantu. Lalu, cayma akan membelah perutmu.
Kau tahu apa yang akan keluar dari perut hantu perempuan yang keras kepala?”
Aku menggeleng. Popo menghirup napas dengan
sangat kuat, seolah oksigen hendak dia habiskan. Aku dapat melihat urat-urat
dan tulang hastanya bergerak.
“Sebutir telur naga yang besar. Telur naga
yang tak diinginkan oleh siapa pun. Bahkan tak ada orang yang mau memakannya
bersama bubur beras.”
Awalnya aku tak tahu bila telur naga yang
Popo maksud adalah aku. Bibi Mei yang bercerita tentang ibu. Bagi Popo, sejak
ibu menolak pertunangan dengan anak laki-laki keluarga Huan, kemudian ibu hamil
oleh laki-laki pujaan hatinya, seseorang yang tak pantas dan patut dijadikan
menantu bagi keluarga Jong, ibuku telah menjadi hantu. Dia benar-benar menjadi
hantu setelah melahirkanku, lalu pergi tak tentu rimba hingga detik ini.
Hantu bagi kami adalah apa-apa yang tak boleh
disebut lagi. Jadi ibuku telah menjelma hantu. Dia belum mati, tetapi sudah
dianggap mati.
Setiap selesai mengisahkan cerita gadis
pembangkang dan keras kepala ini, Popo akan mengambil tanganku, lalu mata
kelabunya akan berlabuh di manik-manik mataku.
“Ying-ying, berjanjilah. Bila aku sudah mati
nanti, jangan sekali-sekali kamu menyebut nama hantu perempuan itu di rumah
ini.”
Lewat manik mata yang basah, aku bertanya,
“Kenapa, Po?”
“Mengucapkan namanya berarti kamu mengencingi
makamku.”
5.
Bahasa atau
Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah
efek dan menghidupkan sebuah karya sastra, penulis biasanya memanfaatkan
keragaman bahasa yang ada. Terlihat pada sinopsis cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong terdapat beberapa gaya bahasa, yaitu:
1. Paralelisme
Paralelisme
yaitu gaya bahasa yang pengulangan kata-katanya digunakan untuk penegasan.
Contoh
:
“Mengucapkan namanya berarti kamu
mengencingi makamku.”
2.
Ekslamasio
Ekslamasio yaitu gaya bahasa yang didalam kalimatnya memakai kata
seru.
Contoh :
” ...saat Popo mengucapkan
kata Pung! dan Chr! Saat itu binar matanya begitu
benderang,...”
3.
Repetisi
Adalah gaya bahasa mengulang
kata-kata tertentu beberapa kali.
Contoh :
“Ying-ying, berjanjilah. Bila aku sudah
mati nanti, jangan sekali-sekali kamu menyebut nama hantu perempuan itu
di rumah ini.”
“....mengabdi
kepada suami dan keluarganya untuk selama-lamanya, tanpa kompromi.”
4.
Hiperbola
Gaya bahasa
yang dipakai untuk melukiskan keadan secara berlebihan.
Contoh :
“.....Dia
juga seakan mampu membaca pikiran lawan-lawannya.”
6.
Sudut Pandang
Adalah cara yang digunakan oleh
pengarang sebagai sarana untuk menjadikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai
peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Pada cerpen Lilin
Merah di Belakang Meja Mahyong
diatas pengarang menggunakan orang pertama sebagai penggambaran tokoh utama.
7.
Amanat
Di dalam cerita pendek Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong terdapat amanat. Yaitu :
berbaktilah kepada orang tua agar kita bisa membahagiakan mereka.
B. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik pada cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong meliputi
1.
Nilai Moral
“Ying-ying, dengarkan baik-baik.” Aku
mengangguk. “Kau jangan jadi gadis pembangkang dan keras kepala. Jika tidak,
kau akan menjadi hantu. Lalu,.....”
Maksudnya adalah kita tidak boleh menjadi
anak pembangkang,
2. Nilai Agama
Takdirnya sudah disegel. Dia tak punya
pilihan. Bila dia mundur, dia akan membuat keluarganya malu. Dia tak ingin menjadi
gadis pembangkang yang menjelma hantu.
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Strukturalisme pada dasarnya merupakan cara berpikir
tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi
struktur-struktur. Strukturalisme sendiri berasal dari kata
struktur yang berarti susunan, dalam penyusunan sebuah karya sastra pasti
mempunyai unsur strukturalisme seperti unsur ekstrinsik dan intrinsik. Hal ini
bertujuan agar karya sastra tersebut tersusun rapi.
Pada cerpen yang berjudul Lilin
Merah di Belakang Meja Mahyong bertemakan tentang kekecewaan orang tua kepada
anaknya karena menolak perjodohan,
dengan tokoh Popo dan Nying-nying, tokoh Popo memiliki watak penyabar dan
pandai bermain mahjong, tokoh Nying-nying memiliki watak penanya atau suka
bertanya, latar tempat cerita ini adalah dirumah keluarga Popo. Suasana yang
tercermin ialah kekecewaan dan kemarahan, cerpen diatas menggunakan alur mundur
karena menceritakan kejadian dimasa lampau, Sudut pandang cerita yaitu orang pertama sebagai penggambaran tokoh utama.dengan
menggunakan beberapa gaya bahasa yaitu : Paralelisme, Ekslamasio, Repetisi, dan
Hiperbola.
DAFTAR
PUSTAKA
Susanto, Dwi. 2012. Pengantar
Teori Sastra. Jakarta : PT. BUKU SERU.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta :
CAPS (Center of Academic Publishing
Service).
Ratna, Nyoman Kutha. 2015. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta
http://cerpen.print.kompas.com/2016/05/19/lilin-merah-di-belakang-meja-mahyong/
Komentar
Posting Komentar