MAKALAH
ANALISIS KAJIAN PSIKOLOGI
SASTRA
Pada
NOVEL SEBUAH
USAHA MELUPAKAN
Karya BOY CHANDRA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas
UAS
Mata
kuliah; Teori Sastra
Dosen
Pengampu;
Oleh
:
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERTAS PERADABAN
BUMIAYU
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Novel merupakan
salah satu jenis dari karya sastra prosa yang banyak digemari. Hal ini
dapat dilihat dari semakin banyaknya judul-judul novel baru yang
bermunculan. Penikmatnya pun semakin lama semakin banyak, mengingat
banyak sekali judul-judul novel yang menyandang gelar “Best Seller”.
Cerita yang diungkapkan beragam, mulai dari mengangkat tema percintaan,
pendidikan, agama dan lain sebagainya. Saat ini, pengarang berlomba-lomba
mengasah kreativitas dalam menciptakan sebuah novel yang memiliki
kualitas. Kualitas sebuah novel sendiri salah satunya dapat dilihat atau
diamati dari sisi unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Unsur-unsur
intrinsik seperti tema, plot (alur), latar, sudut pandang pengarang, penokohan,
gaya bahasa dan amanat yang terkandung dalam sebuah novel dapat dijadikan tolak
ukur dalam menilai kualitasnya. Sedang dari sisi unsur ekstrinsik dapat
dilihat dari pengaruh-pengaruh luar dari struktur novel sendiri seperti
kebudayaan, agama, politik, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan
pengarang.
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya
seni. Sastra juga cabang ilmu pengetahuan. Studi sastra memiliki metode-metode
yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu-ilmu alam.
Bedanya hanya saja ilmu-ilmu alam berbeda dengan tujuan ilmu-ilmu budaya.
Ilmu-ilmu alam mempelajari fakta-fakta yang berulang, sedangkan sejarah mengkaji
fakta-fakta yang silih berganti. Dengan perkembangannya
ilmu tentang sastra, maka bukan hanya unsur-unsur yang terdapat di dalam sebuah
karya sastra saja yang dapat dikaji atau analisis tetapi pada saat ini sastra
juga dapat dikaji berdasarkan faktor-faktor yang berasal dari luar karya sastra
itu. Faktor-faktor dari luar karya sastra salah satunya adalah psikologi
sastra.
Psikologi turut berperan penting dalam
penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya
sastra, baik dari unsur pengarang, tokoh
atau pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka
akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Secara
umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat
hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan Psikologi Sastra.
Analisis Teori Psikologi Sastra yang
dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis dan diaplikasikan dengan meminjam
teori kepribadian ahli psikologi
terkenal. Dengan meletakkan teori sebagai dasar penganalisisan, maka pemecahan
masalah akan gangguan kejiawaan tokoh utama akan dapat dijembatani secara
bertahap. Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang
melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra,
tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap menambahkan
pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu sering pula
dialami oleh orang lain.
Pendekatan psikologis adalah pendekatan
yang bertolak dari asumsi karya sastra bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa yang terjadi di
dalam kehidupan manusia.Untuk melihat dan mengenal manusia lebih jauh perlu
psikologi. Dalam pelaksanaan pendekatan psikologi dalam kajian sastra hanya
dapat diambil bagian-bagian yang berguna dan sesuai dengan pembahasan sifat dan
hal yang membahas tentang perwatakan manusia. Psikologi sastra merupakan kajian sastra yang pusat
perhatiannya pada aktivitas kejiwaan
baik dari tokoh yang ada suatu
karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra,bahkan pembaca sebagai
penikmat sebuah karya. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan
psikologis pengarang sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.
Dalam makalah
ini mengulas psikologi sastra dari sebuah novel yang berjudul Sebuah
Usaha Melupakan karya dari Boy Chandra. Alasannya adalah karena novel yang
berjudul Sebuah Usaha Melupakan dianggap memiliki tema cerita kisah
yang menarik. Sebuah Usaha Melupakan menyajikan sebuah
cerita tentang hubungan percintaan yang terputus karena jarak.
Ketertarikan terhadap novel inilah yang akhirnya membuat penulis menjatuhkan
pilihan untuk menganalisis dan mengulasnya ke dalam sebuah karya tulis dengan
judul “Analisis Psikologi sastra pada novel yang berjudul Sebuah Usaha
Melupakan”.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dirumuskan rumusan
masalah dalam makalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
kajian psikologi sastra?
2. Analisis psikologi sastra pada
novel Sebuah
Usaha Melupakan?
C.
Tujuan
Pembahasan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui psikologi sastra.
2.
Untuk mengetahui
analisis novel Sebuah Usaha Melupakan.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Pengertian Psikologi Sastra
Psikologi secara sempit dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa.
Sedangkan sastra adalah ilmu tentang karya seni dengan tulis-menulis. Maka jika
diartikan secara keseluruhan, psikologi sastra merupakan ilmu yang mengkaji
karya sastra dari sudut kejiwaannya. Menurut
Wellek dan Austin (1989:90), Istilah psikologi sastra mempunyai empat
kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai
tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga
studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan
yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca).
Pendapat Wellek dan Austin tersebut memberikan pemahaman akan begitu luasnya
cakupan ilmu psikologi sastra. Psikologi sastra tidak hanya berperan dalam satu
unsur saja yang membangun sebuah karya sastra.
Psikologi sastra adalah analisis teks dengan
mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologi. Artinya, psikologi
turut berperan dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut
kejiwaan karya sastra tersebut. Langkah pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui, pertama pemahaman teori-teori
psikologi kemudian dilakuykan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan
sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori
psikologi yang dianggap relevan. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan
objek penelitian.
Menganalisis sebuah karya sastra menggunakan
pendekatan psikologi harus berlandaskan pada teori, konsep dan definisi dalam
bidang sastra dan psikologi atau dikenal dengan psikoanalisis. Teori psikologi
dan teori sastra harus saling mengisi. Psikologi turut berperan penting dalam
penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya
sastra, baik dari unsur pengarang, tokoh
atau pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka
akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Secara
umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat
hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan Psikologi Sastra.
Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah
manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam
sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap
menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu
sering pula dialami oleh orang lain. Dalam pelaksanaan pendekatan psikologi dalam kajian
sastra hanya dapat diambil bagian-bagian yang berguna dan sesuai dengan
pembahasan sifat dan hal yang membahas tentang perwatakan manusia. Psikologi
sastra merupakan kajian sastra yang pusat
perhatiannya pada aktivitas kejiwaan
baik dari tokoh yang ada suatu
karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra,bahkan pembaca sebagai
penikmat sebuah karya. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan
psikologis pengarang sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.
B.
Penelitian Psikologi Sastra
Di Indonesia
analisis tentang psikologi sastra sangat lambat perkembangannya hal ini
disebabkan karena :
a. Psikologi
satra seolah-olah hanya berkaitan dengan manusia sebagai individu, kurang
memberikan peranan terhadap subjek transindividual, sehingga analisis dianggap
sempit,
b. Dikaitkan
dengan tradisi intelektual, teori-teori psikologis sangat terbatas, sehingga
para sarjana sastra kurang kurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologin
sastra,
c.
Berkaitan dengan masalah yang pertama dan kedua ,
relevansi analisis psikologi pada gilirannya kurang menarik minat, khususnya
dikalangan mahasiswa, yang dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya
tulis yang lain yang memanfaatkan pendekatan psikologi sastra.
Menurut
Wellek dan Warren ( 1962: 81 ) menyatakan bahwa membedakan analisis psikologis
menjadi dua macam yaitu studi psikologi yang semata-mata berkaitan dengan
pengarang. Sedangkan studi yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan
kekuatan-kekuatan supranatural lainnya. Pada dasarnya psikologi sastra
memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya
dengan unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung didalam karya
sastra. Tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang
terkandung dalam suatu karya sastra. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa
analisis psikologi sastra sama sekali terlepas denga kebutuhan masyarakat.
Sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat
secara tidak langsung.
Dengan
penjelasan diatas maka penelitian psikologi sastra dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakukan
analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan
sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori
psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis.
C.
Ruang
Lingkup Psikologi Sastra
Mempelajari psikologi sastra sama halnya mempelajari
manusia dari sisi dalam. Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Sebenarnya
didalam karya sastra memiliki aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya, maka
analisis psikologi harus dimotifasi dan dikembangkan secara lebih serius lagi.
Tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung
dalam suatu karya sastra. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa analisis
psikologi sastra sama sekali terlepas denga kebutuhan masyarakat. Psikologi
sastra sebagaimana dimaksudkan dalam pembicaraan ini adalah cara-cara
penelitian yang dilakukan dengan menempatkan karya sastra sebagai gejala yang
dinamis. Karya sastralah yang menentukan teori, bukan sebaliknya. Dengan
mengambil analogi hubungan antara psikolog dengan pasien diatas pada dasarnya
sudah menjadi keseimbangan antara karya sastra dengan teori. Ruang
lingkup psikologi sastra adalah sebagai berikut :
1.
Alam bawah sadar
Alam bawah sadar adalah bagian pikiran manusia yang
tidak disadari keberadaanya, namun pengaruhnya sangat besar. Alam bawah sadar merekam dan menyimpan peristiwa baik
yang menyenangkan maupun peristiwa buruk. Biasanya
keluar dalam keadaan terdesak, terpaksa,
ketakutan dan respon mendadak (reflek).
2.
Alam pra Sadar
Alam pra sadar yaitu mengingat kembali kenangan-kenangan
suatu peristiwa yang terjadi. Kondisi ini
biasanya keluar dalam kondisi mengingat sesuatu berdasarkan benda, tempat
maupun kejadian yang sama dengan yang pernah dialami oleh seseorang sebelumnya.
3.
Alam Sadar
Alam sadar yaitu melakukan segala aktivitas dengan
sadar. Biasanya dengan penginderaan langsung. Alam sadar adalah kondisi dimana seseorang melakukan sesuatu dengan
kondisi sadar atau setiap kejadian yang terekam oleh otak secara langsung.
4.
Id
Id merupakan
komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Id didorong oleh prinsip
kesenangan, yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan. id adalah sumber segala energi
psikis, sehingga komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip
kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan,
keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya
adalah kecemasan, id mencoba
untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui
proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang
diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.
5.
Ego
Ego adalah komponen kepribadian
yang bertanggung jawab untuk menangani dengan nyata. Ego berusaha untuk
memuaskan id dengan cara-cara yang nyata.
Ego juga bisa diartikan sebagai suatu keinginan yang timbul dari diri
seseorang.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan
keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip
realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan
untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id
itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan
memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
6.
Super Ego
Superego adalah aspek kepribadian yang menampung
semua moral cita-cita yang kita peroleh dari kehidupan sosial. Superego
memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yang ideal ego mencakup aturan dan
standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui
oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini
menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia
bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan
perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada
prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak
sadar.Maka dari itu timbullah interaksi dari ketiga unsur unsur diatas yaitu
dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin
timbul antara ego, id dan superego.
Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau
hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk
menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang
tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego
atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego
hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.Maka dari itu timbullah interaksi
dari ketiga unsur unsur diatas yaitu dengan kekuatan bersaing begitu banyak,
mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan
superego.
7.
Kompleks Oidipus
Kompleks oidipus merujuk pada suatu
tahapan perkembangan psikoseksual pada masa ketika hasrat seseorang untuk
secara seksual memiliki orang tua dengan jenis kelamin berbeda. Sehingga secara
tidak langsung alam bawah sadarnya merekam kasih sayang orangtuanya kepada
seseorang yang dia sayang. Biasanya terobsesi dari orangtuanya.
D.
Kegunaan psikoanalisi sastra
Psikoanalisis dapat digunakan untuk menilai karya
sastra karena psikologi dapat menjelaskan proses kreatif. Misalnya, kebiasaan
pengarang merevisi dan menulis kembali karyanya. Yang lebih bermanfaat dalam
psikoanalisis adalah studi mengenai perbaikan naskah, koreksi, dan seterusnya. Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk
menganalisis secara psikologis tokoh-tokoh dalam drama dan novel. Terkadang
pengarang secara tidak sadar maupun secara sadar dapat memasukan teori
psikologi yang dianutnya. Psikoanalisis juga dapat menganalisis jiwa pengarang
lewat karya sastranya.
E.
Penerapan Psikoanalisis dalam Sastra
Penerapan
psikoanalisis dalam bidang seni, juga sastra, sudah dimulai oleh Freud sendiri.
Karya-karya Sigmund Freud yang menyinggung bidang seni antara lain:
1. L’interpretation
des Reves (Interpretasi Mimpi), terbit pertama kali tahun 1899. Ini adalah sebuah
buku klasik yang menguraikan tafsir mimpi. Buku ini merupakan landasan teoretis
paling mendasar mengenai hubungan antara psikoanalisis dan sastra. Tulisan
Freud yang sering dipakai sebagai landasan teoretis adalah Trois Essais sur
la Theorie de la Sexualite (Tiga Esai tentang Teori Seksualitas), terbit
tahun 1962.
2. Delire et
Reves dana la “Gradiva” de Jensen (Delir dan Mimpi dalam “La Gradiva”
Karya Jensen. Terbit tahun 1906. Ini adalah karya paling jelas mengenai
penerapan teori-teori psikoanalisis dalam karya sastra. Di sini Freud melakukan
penelitian pada sebuah cerpen berjudul La Gradiva karya Jensen dan
menemukan bahwa kepribadian tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian dalam cerpen itu
sangat sesuai dengan teori-teorinya sendiri mengenai kepribadian manusia.
3. La Creation
Litteraire et le reve Eveille (Penciptaan Sastra dan Mimpi dengan
Mata Terbuka), sebuah esai yang terbit pada tahun 1908. Di sini Freud menemukan
kemiripan antara proses penciptaan karya sastra pada sastrawan dengan
kesenangan yang diperoleh anak-anak dalam permainan. Menurut Freud, “Penyair
bertindak seperti anak-anak yang bermain, dan menciptakan dunia imajiner yang
diperlakukannya dengan sangat serius, dalam arti bahwa penyair melengkapinya
dengan sejumlah besar pengaruh, seraya tetap membedakannya dengan tegas dari
realitas.” (footnote).
4. Un Souvenir
d’enfance de Leonardo de Vinci (Kenangan Masa Kanak-kanak Leonardo
da Vinci), terbit pada 1910. Di sini Freud menganalisis kepribadian Leonardo da
Vinci dari biografi dan karya-karya seninya, termasuk menguraikan rahasia
senyuman Monna Lisa. Dalam buku ini pula Freud memerkenalkan sebuah konsep
penting yang berpengaruh dalam teori kebudayaan, yaitu konsep sublimasi.
5.
Das Unheimliche (Keanehan yang Mencemaskan), terbit
tahun 1919. Di sini Freud mengangkat sebuah efek atau kesan yang kerap dirasakan
pembaca ketika menikmati karya sastra tertentu yang bersifat tragik atau horor,
yaitu perasaan cemas, takut, atau ngeri. Meskipun perasaan yang mencemaskan itu
muncul, anehnya pembaca tetap menyenangi dan menikmati karya sastra demikian.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengantar Novel Sebuah
Usaha Melupakan
karya
Boy Chandra
Awalnya penulis ingin menulis buku-buku yang manis, tanpa
rasa pahit seperti buku-buku penulis sebelumnya. Beberapa tulisan pembuka sudah
ditulis dengan baik. Hingga suatu peristiwa yang tak bisa penulis jelaskan
menimpanya, proses menulis buku sebuah usaha melupakan pun tak bisa penulis
jalankan sesuai rencana semula. Bagi penulis, saat menulis buku ini adalah
terapi menenangkan diri, penenang untuk seseorang yang pernah sekuat hati
memperjuangkan, tetapi dilepas paksa kemudian.
Kamu tahu rasanya dikhianati? Seseorang yang kamu cintai
sepenuh hati hanya menjadikanmu pengaman untuk membuatnya terbang lebih tinggi.
Setelah ia tumbuh jauh, kamu pun dijatuhkan tanpa peduli. Kamu dibiarkan
terbaring dalam penderitaanmu. Kamu merasa tiba-tiba hilang arah. Rencana-rencana
yang kamu susun menjadi tak tertata lagi. Kamu benar-benar tak tahu harus
berbuat apa waktu itu. Kamu ingin marah, benci, sedih, semua seolah tak
terkendali, hingga akhirnya kamu menyadari dia bukan yang terbaik untuk
memiliki hatimu. Apalah artinya segala yang penulis perjuangkan sepenuh hati,
hanya membalas separuh hati. Apalah gunanya harapan yang penulis pertahankan,
tetapi tak pernah dipertahankan.
Namun, hidup punya jalan tempuh sendiri. Semesta selalu
paham siapa yang harus dicintai semestinya. Hanya saja semua butuh waktu. Tidak
semua orang yang datang kehidup kita adalah dia yang benar-benar pandai
mencinta. Beberapa hanya datang mengajarkan luka. Beberapa lainnya hanya datang
untuk meninggalkan seberkas cerita.
Sebuah Usaha Melupakan memiliki tema cerita kisah yang menarik. Sebuah
Usaha Melupaka menyajikan sebuah cerita tentang hubungan percintaan yang terputus karena
jarak. Ketertarikan
terhadap novel inilah yang akhirnya membuat penulis menjatuhkan pilihan untuk
menganalisis dan mengulasnya ke dalam sebuah karya tulis
Sebuah
usaha melupakan merupakan
perenungan-perenungan perihal seseorang yang meninggalkan. Seseorang yang pergi
lalu melahirkan benci. Seseorang yang akhirnya disadari hidup akan baik-baik
saja tanpa dia. Bagaimana pun sedihnya kamu saat dipatah hatikan, kamu harus
kembali bangkit dan memperjuangkan harapan. Kamu tidak boleh menyerah hanya
karena seseorang yang kamu percaya ternyata tak benar-benar indah. Sesakit
apapun perasaanmu saat dilukai kamu harus tetap menerima dirimu sendiri.
B.
Menganalisis
Novel Pada Sebuah Usaha
Melupakan
karya
Boy Chandra
Psikologi sastra adalah analisis teks dengan
mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologi. Artinya, psikologi
turut berperan dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut
kejiwaan karya sastra tersebut. Langkah pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui, pertama pemahaman teori-teori
psikologi kemudian dilakuykan analisis terhadap suatu karya sastra.
Analisis psikologi
sastra pada novel Sebuah Usaha Melupakan
karya Boy Candra dapat dilihat dan
dibuktikan sebagai berikut:
1.
Alam
bawah sadar
Alam bawah sadar adalah bagian
pikiran manusia yang tidak disadari keberadaanya, namun pengaruhnya sangat
besar. Biasanya keluar dalam keadaan terdesak, terpaksa, ketakutan
dan respon mendadak (reflek).
Psikologi sastra
alam bawah sadar dalam novel Sebuah Usaha Melupakan
karya Boy Candra dapat dilihat dari
bukti berikut:
“...terkadang
aku merasa takut saat menjalani semua ini denganmu. Saat kita sibuk dengan
dunia kita... “
(Chandra, Boy 2016: 87).
Rasa takut tokoh
“aku” datang secara reflek atau tiba-tiba karena kecemasannya.
“Andai bisa, aku tidak ingin mengenalmu sama sekali...” (Chandra,
Boy 2016: 147).
“Saat keberanian itu muncul menggebu-gebu. Entahlah dari
mana asalnya; yang aku tahu aku tak takut apapun, selain kehilanganmu...” (hal
152).
Keberanian dalam
teks tersebut muncul tanpa disadari oleh tokoh “Aku”. Di dalam kalimat tersebut
tokoh “aku” tidak menyadari perasaannya.
“pernah ada seseorang di masa lalu di sana seolah merasa
takut, aku akan kembali terseret masa lalu yang kusut.” (hal. 286).
2.
Alam Pra Sadar
Alam pra sadar yaitu mengingat
kembali kenangan-kenangan suatu peristiwa yang terjadi.Psikologi sastra alam pra sadar dalam novel Sebuah Usaha Melupakan karya
Boy Candra dapat dilihat dari bukti
berikut:
“Aku kembali mengingat hari lalu tentang kamu dan aku.
Tentang hal-hal yang belum kita sepakati sebagai cinta. Aku pernah jatuh cinta kepada seseorang dengan teramat
dalam. Hingga aku membiarkan diriku tenggelam dalam hal yang pelan-pelan
membunuhku.” (Chandra,
Boy 2016: 47).
Pada kalimat ini,
penulis mengingat kembali hari tentang kejadian yang pernah penulis lalui.
“Beberapa bulan lalu aku bertemu dengan salah satu editor
dari penerbit yang menerbikan buku-bukuku. Kami duduk berdua menghabiskan
petang hari dengan kopi dan berbagai cerita. Entah sebab apa, kami berdua
seperti dua orang yang sudah kenal lama. Begitu akrab. Dan bahkan tidak segan
mengatakan apa saja yang sedang ku rencanakan.” (Chandra, Boy 2016: 139).
“...tak bisa ku bunuh mati. Berkali-kali kau mencoba
berlari, lalu tersadar kau tak pernah benar-benar bisa pergi. Sebab yang kau
bawa hanyalah tubuh dan pikiranmu saja. Perasaan dan hatimu menetap pada
seseorang yang selalu kau rindu...” (Chandra, Boy 2016: 230).
3.
Alam
Sadar
Alam sadar adalah kondisi dimana seseorang melakukan
sesuatu dengan kondisi sadar atau setiap kejadian yang terekam oleh otak secara
langsung.
Penerapan psikologi
sastra alam sadar dalam novel Sebuah
Usaha Melupakan
karya Boy Candra dapat dilihat dari bukti berikut:
”sejak memilihmu aku belajar untuk percaya. Meski banyak
hal terkadang mencoba membuat ragu. Namun aku paham, aku sudah menempatkanmu
menjadi orang terpenting dalam hidupku. Seseorang yang dengan sungguh-sungguh
kucintai.” (Chandra, Boy 2016: 67).
”kita harus melakukan tanggung jawab kita masing-masing.
Kamu akan sibuk dengan pekerjaanmu, aku pun akan sibuk dengan kegiatanku.”
(Chandra, Boy 2016: 75).
“Hubungan ini mengajarkan kita untuk menjadi mandiri. Saat
aku butuh kamu, aku harus melakukannya sendiri. Begitu pun kamu, saat kamu
butuh lenganku, kamu pun harus melakukannya sendiri.” (Chandra, Boy 2016: 76).
“Aku harus mampu menenangkan kecemasanku. Aku harus mampu
belajar bahwa kenyataan kini sedang memporakporandakan pertahanan yang ku
bangun.” (Chandra, Boy 2016: 144).
“Sekian kali kuyakinkan diri. Mencoba menerka apa yang
sebenarnya terjadi. Bercermin untuk mengetahui salah diri. Namun, tak ada yang
mampu aku cerna. Kita belum baik-baik saja.” (Chandra, Boy 2016: 160).
“Hidup baru ternyata memang lebih jauh lebih bahagia.
Sedih dan rasa sakit yang kamu bekaskan, ku telan sudah. Pahitnya menjadi
semangat baru.” (Chandra, Boy 2016: 164).
Penulis menyadari
bahwa kebahagiaan tidak selamanya dengan orang yang dicintai. Penulis dapat
merasa bahagia dengan melepas orang yang membuatnya resah.
“Kau katakan padaku. Bahwa pada kenyataannya, akulah
seseorang yang harus dibuang. Seseorang yang ternyata tak kau anggap sebagai
pemenang.” (Chandra, Boy 2016: 176).
“...Cintamu terlambat kamu sadari. Kini aku sudah
menjalani hidup baru. Aku sudah belajar dibahagiakan oleh orang yang baru. Dan
kupastikan tak akan meniru sikapmu dulu...” (Chandra, Boy 2016:. 205).
“...Aku hanya tidak ingin kamu terluka sebab patah hatiku
yang belum mampu kuselesaikan dengannya. Maaf aku belum mampu mencintaimu
seperti inginmu. Aku masih ingin menenangkan hati sebab luka yang terasa
teramat pilu.” (Chandra, Boy 2016: 211).
“Dan kini sudah saatnya aku menyadari satu hal. Aku
ternyata benar-benar telah kehilanganmu. Kamu bukan lagi seseorang yang menjadi
bagian hidupku...” (Chandra, Boy 2016: 217).
“mau tidak mau, percaya tidak percaya, kini aku memang
harus menerima kenyataan. Kamu bukan lagi orang yang layak kuperjuangkan.” (Chandra,
Boy 2016: 218).
“Aku hanyalah orang yang mencoba membiasakan diri
tanpamu. Menjadi orang lain...” (Chandra, Boy 2016: 223).
“sebab aku mencintaimu, aku
ingin terus menulis. Kelak, aku dan kau akan tua, aku tak ingin semua
kebersamaan denganmu sia-sia. Pada saat mataku tak begitu jelas lagi membaca,
telingaku tak sebaik hari ini, kau dan aku bisa meminta seseorang membacakan hal-hal
yang pernah kutulis perihal kamu, tentang betapa dalamnya aku tenggelam dalam
matamu. Tentang upaya kita tetap bertahan dalam sedih. Tentang segala sesuatu
yang pedih kita kembalikan untuk pulih.” (Chandra, Boy 2016: 301).
Pada kalimat ini keinginan penulis agar tetap menulis
sesuai yang dicita-citakan dan impikan.
4.
Id
Id merupakan komponen kepribadian yang hadir sejak
lahir. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk memenuhi semua
keinginan dan kebutuhan.
Penerapan psikologi
sastra id dalam novel Sebuah Usaha
Melupakan
karya Boy Candra dapat dilihat dari bukti berikut:
“aku selalu membayangkan kelak saat aku menulis buku. Ada
seseorang yang menyediakan makanan untukku...” (Chandra, Boy 2016: 13).
“….. dia
miliki tidak lebih besar daripada keinginannya bersamamu sampai nanti. Itulah
mengapa kamu harus sadar diri. Kamu bukan hal yang benar-benar penting
baginya...” (Chandra,
Boy 2016: 62).
“Denganmu aku ingin menua dan menemukan akhir dari usia.
Denganmu ingun kuhabiskan segala hal yang tersisa. Memperjuangkan apa pun yang
ingin kita punya...” (Chandra, Boy 2016: 85).
“... dia hanya punya ambisi yang pelan-pelan akan
menghabisi. Agar dia tahu, kau adalah jantungku...” (Chandra, Boy 2016: 227).
“aku akan mencoba melupakanmu. Meski setiap kali kalimat
itu kukatakan ada bahagia yang hilang dari dadaku...” (Chandra, Boy 2016: 238).
Penulis berusaha
melupakan masa lalu dengan kekasihnya meski harus merasakan luka, sedih dan
menangis.
”aku ingin menjadi seseorang yang selalu berada disampingmu
saat manis pahit menerpa hidup yang memelukmu. Aku bersedia menjadi tubuh dan
tabah yang kau butuhkan; sebagai lengan yang memeluk saat kau merasa rapuh.”
(Chandra, Boy 2016: 303).
Penulis ingin
menjadi alasan untuk kekasihnya agar tetap bersemangat dalam menggapai
cita-cita dan impiannya.
5.
Ego
Ego adalah komponen kepribadian
yang bertanggung jawab untuk menangani dengan nyata. Ego berusaha untuk
memuaskan id dengan cara-cara yang nyata.
Penerapan psikologi sastra ego dalam novel Sebuah Usaha Melupakan karya
Boy Candra dapat dilihat dari bukti
berikut:
“sebagai orang yang menekuni kegiatan tulis menulis sejak
beberapa tahun lalu. Aku pernah berkeinginan punya kekasih yang sehobi
denganku.” (Chandra, Boy 2016: 12).
“...kelak saat aku menulis buku. Ada seseorang yang
menyediakan makanan untukku. Dan orang itu adalah kamu.” (Chandra, Boy 2016:
13).
“jarak dan pekerjaan mengharuskan kita bersabar dengan
lebih sabar. Agar semuanya bisa berjalan sebaik mungkin...” (Chandra, Boy 2016:
75).
“manusia akan selalu
menginginkan hal yang lebih. Begitu juga untuk urusan perasaan. Sikap yang
tidak mudah puas dan belum bersyukur dengan apa yang dimiliki, seringkali
menjadikan seseorang melepaskan apa yang sudah dia punya.” (Chandra, Boy 2016:
79).
Dalam kalimat ini, penulis menyadari karakter manusia
yang selalu menginginkan lebih. Penulis juga menyadari bahwa hubungan dengan
jarak yang jauh dapat menimbulkan rasa curiga. Hal ini mempengaruhi psikologi
pembaca karena dapat berpengaruh dalam menanggapi karakter manusia.
“...aku ingin kau
mengingatkan aku bila aku lupa. Aku ingin memelukmu jika hatimu terluka.
Denganmu aku ingin menua dan menemukan akhir usia.” (Chandra, Boy 2016: 84-85).
Pada kalimat ini terlihat tentang keinginan penulis untuk
selalu berada disamping kekasihnya kala kekasihnya sedang terpuruk.
“...aku selalu berharap, kau tetap menjadi seseorang yang
bersedia bersamaku. Selelah dan sekeras apa pun nanti kita harus berjuang.
Tetaplah menjadi kekasihku. Aku juga ingin tetap mendampingimu.” (Chandra, Boy
2016: 88).
“aku harus menenangkan diriku dengan sangat. Meyakinkan
diriku dengan tenang, meski tak semudah yang dibayangkan.” (Chandra, Boy 2016:
93).
“menerbitkan buku puisi adalah salah satu impian besarku.
Aku membutuhkan waktu hampir setahun untuk menulisnya,...” (Chandra, Boy 2016: 140).
Keinginan penulis
untuk mencapai cita-citanya untuk menulis tercantum dalam kalimat “menerbitkan
buku puisi adalah salah satu impian besarku.” Yang menjadikan sifat ego penulis
untuk mengalihkan pikirannya tentang masa lalu bersama kekasihnya.
“ Aku telah
membuang jauh-jauh dari ingatanku. Sebab mengenangmu hanya menjenuhkan
kehangatan hariku. Tidak ada gunanya mengenang seseorang yang sudah tak ingin
pulang.” (Chandra,
Boy 2016: 156).
“jangan merasa bahagia dengan melukaiku. Kamu harus tahu,
aku bahkan tak lagi menginginkanmu. Kamu, hanyalah bagian dari masa lalu yang
pernah singgah.” (Chandra, Boy 2016: 163).
“kelak suatu
hari nanti kau juga harus belajar menyadari. Bahwa kau sudah kulupakan dan
bukan orang yang penting lagi dalam hati. Setiap hati yang dilepaskan, akhirnya
harus belajar mengikhlaskan.” (Chandra, Boy
2016: 251).
“...semua keadaan yang tak dapat kupercaya-akhirnya
terjadi. Dari kesemua yang berlalu dan kini kita sebut masa lalu. Aku mencoba
menjadikan pelajaran hidup yang tak akan terhenti sebab patah hati...” (Chandra,
Boy 2016: 246).
“Banyak pekerjaan dan impian yang harus kutepati dan penuhi
demi janji kepada diri sendiri. Sudah terlalu panjang waktu terbuang sia-sia di
masa lalu.” (Chandra, Boy 2016: 266).
”Semua impian dan hal baik juga dikarenakan semangat yang
tumbuh hangat untuk tetap bersamamu...” (Chandra, Boy 2016: 281).
“aku ingin menjadi seseorang yang mampu mencintaimu di
segala suasana. Jadilah, seseorang yang bersedia mendampingi, berdiri tegak di
sampingku, berjalan beriringan menuju segala rencana yang kita jadikan tuju.”
(Chandra, Boy 2016: 287).
“tetaplah menjadi seseorang yang menghadirkan banyak
kejutan dalam hidupku dengan segala kegilaanmu. Tetaplah menjadi penekun
impian-impian besarmu. Aku selalu bersedia mendampingi dan tumbuh bersama dirimu.”
(Chandra, Boy 2016: 291).
“...denganmu
tentu aku ingin menjalani hubungan yang baik. Meski jatuh tak bisa lepas dari
rasa sakit, kita tetap bisa memilih lebih hati-hati...” (Chandra, Boy 2016: 294).
“aku ingin menjalani kisah yang seimbang denganmu.
Perasaan yang berbalas. Bukan rindu yang terhempas kandas. Bukan juga
dusta-dusta yang disamarkan melalui rayuan-rayuan culas.” (Chandra, Boy 2016:
294).
6.
Super
Ego
Superego adalah aspek kepribadian
yang menampung semua moral cita-cita yang kita peroleh dari kehidupan sosial.
Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yang ideal ego mencakup aturan dan
standar untuk perilaku yang baik.
Penerapan psikologi sastra super ego dalam novel Sebuah Usaha Melupakan karya
Boy Candra dapat dilihat dari bukti
berikut:
“sebagai orang yang menekuni kegiatan tulis menulis sejak
beberapa tahun lalu. Aku pernah berkeinginan punya kekasih yang sehobi
denganku.” (Chandra, Boy 2016: 12).
“...kelak saat aku menulis buku. Ada seseorang yang
menyediakan makanan untukku. Dan orang itu adalah kamu.” (Chandra, Boy 2016:
13).
“aku selalu berharap dengan sungguh. Semoga semesta selalu
mendekatkan kita,...” (Chandra, Boy 2016: 28).
“...aku bisa
pelan-pelan mencapai impianku satu persatu...” (Chandra, Boy 2016: 49).
“jangan menyerah untuk tetap bersamaku. Jangan biarkan
lemah menjadikan kita masa lalu yang pilu. Sebab, kelak aku ingin pulang dengan
hati yang senang. Aku ingin melihatmu menunggu dengan rindu.” (Chandra, Boy
2016: 72).
Psikologi penulis menginginkan
hal yang ia impikan dan harapkan. Hal ini tercantum dalam kalimat “kelak aku
ingin pulang dengan hati yang senang. Aku ingin melihatmu menunggu dengan hati
rindu.” Dalam kalimat ini jelas harapan penulis untuk kekasihnya.
”Andai aku bisa,
ingin sekali aku menghapusmu dari ingatan yang menyiksa. Tak ada satu hal pun
akan kubiarkan menusuk diriku dan menjadikan ingatan terasa pilu...” (Chandra, Boy 2016: 149).
“...aku sempat
berlari menjauh dari kotaku. Menghabiskan hari-hari sedih di kota lain untuk
membunuh waktu yang terasa pedih. Aku bahkan tak percaya...” (Chandra, Boy 2016: 153)
“...aku
ingin tertawa sekencang-kencangnya, menatap matamu dan meyakini kau sedang
bercanda...” (Chandra, Boy 2016: 225).
“Kaulah rumah tempat pulang, bagian dari hidup yang
menjadi alasan berjuang. Penyemangat di kala penat. Seseorang yang membuatku
tetap merasa pulih setelah didera letih.” (Chandra, Boy 2016: 289).
“aku hanya ingin kita saling menatap mata. Lalu, rasakan
apa yang kau rasakan di dada. Getar-getar yang tumbuh adalah perasaan yang
jatuh. Sesuatu yang orang-orang sebut cinta.” (Chandra, Boy 2016: 298).
“sekarang percayalah. Ibumu
adalah satu-satunya perempuan yang tak akan menyerah. Bagaimana pun aku, dia
tetap bersamaku. Itulah yang membuatmu hadir sebagai bagian hidupku. Bacalah
buku-buku yang kutulis, belajarlah, bahwa patah hati bisa juga kau nikmati
tanpa menangis.” (Chandra, Boy 2016: 300).
Penulis menginginkan hal yang ia tulis menjadi suatu
kenangan dalam hidupnya yang mengajarkan bahwa patah hatu bisa dinikmati tanpa
menangis.
7.
Kompleks
Oidipus
Kompleks oidipus merujuk pada suatu
tahapan perkembangan psikoseksual pada masa ketika hasrat seseorang untuk
secara seksual memiliki orang tua dengan jenis kelamin berbeda.
Penerapan psikologi
sastra kompleks oidipus dalam novel Sebuah
Usaha Melupakan
karya Boy Candra dapat dilihat dari bukti berikut:
“Nak, jika kau ingin tahu bagaimana cinta bekerja pada
dada ayahmu, bacalah buku-buku yang ayah tulis. Mungkin beberapa terlihat
memilukan. Namun, kau harus tahu. Setiap orang yang datang ke hidup kita, punya
tempatnya sendiri untuk dijadikan cerita.” (Chandra, Boy 2016: 299).
Pada kalimat ini, mengisahkan ayah penulis memiliki kisah
hidup yang sama. Yang ingin disampaikan agar penulis dapat melewati fase dimana
yang pernah ayah penulis lewati.
“lalu, jika kau tanya siapa perempuan yang aku paling
sayang. Tentu, aku pasti menjawab ‘perempuan yang melahirkanmu –ibumu’. Karena
dialah yang akhirnya kuabadikan dengan jiwa, bukan sebatas tulisan saja.”
(Chandra, Boy 2016: 299).
Pada kalimat ini,
penulis menginginkan sosok perempuan yang seperti ibunya yang selalu mengerti
keadaannya.
“Kau
harus tahu, Nak. Sebagai lelaki biasa, aku paham bagaimana caranya mencintai.
Namun, beberapa perempuan tak mengerti caranya mempertahankan lelaki. Itulah
mereka yang akhirnya gagal. Tersisa sebagai bagian cerita catatan dan puisi
atau buku.” (Chandra, Boy 2016: 300).
Pada kalimat ini, ibu penulis memberi pemahaman tentang
perempuan karena ibu penulis pernah berada diposisi yang sama.
Dalam novel Sebuah Usaha Melupakan karya
Boy Candra, tokoh utama berusaha keras
untuk melupakan segala kenangan dengan kekasihnya. Ia mengalihkan masa lalunya
dengan menulis puisi dan menulis buku. Penulis menyadari bahwa waktu terus
berlalu, kenangan demi kenangan dapat terhapuskan dari ingatannya. Yang bisa
penulis lakukan ialah menggapai cita-cita yang dulu pernah ia rangkai meski tak
lagi bersama seorang kekasih yang dulu pernah singgah dihatinya.
C.
Tentang Penulis Novel Sebuah Usaha Melupakan
Boy Chandra lahir
21 November 1989. Menetap dan berproses di Padang, Sumatera barat. Belajar
serius menulis sejak 2011. Buku-buku yang sudah terbit; (1) Origami Hati, (2)
Setelah Hujan Reda, (3) Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang, (4) senja,
Hujan, dan Cerita yang telah usai, (5) Sepasang Kekasih Yang Belum Bertemu, (6)
Surat Kecil untuk Ayah, (7) satu Hari di 2018, (8) Kuajak Kau Ke Hutan dan
Tersesat Berdua.
Buku ‘sebuah usaha
melupakan’ adalah buku non fiksi ketiga dengan seri kepenulisan buku ‘Catatan
Pendek untuk Cinta yang Panjang’ dan ‘senja, Hujan, dan Cerita yang telah usai’
teknik penulisan ‘empat paragraf’ yang diciptakan Boy Chandra. Sekaligus buku
kesembilan yang diterbitkan sejak 2013.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Psikologi secara sempit dapat diartikan sebagai ilmu
tentang jiwa. Sedangkan sastra adalah ilmu tentang karya seni dengan
tulis-menulis. Maka jika diartikan secara keseluruhan, psikologi sastra
merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut kejiwaannya. Menurut Wellek dan Austin (1989:90), Istilah psikologi
sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi
psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi
proses kreatif. Psikologi
sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi
psikologi.
Menganalisis karya sastra melalui
pendekatan psikologi, bukan berarti penulis harus meninggalkan pendekatan
sastra. Sebelum melakukan analisis sastra melalui pendekatan psikologi terlebih
dahulu seorang peneliti akan menelaah karya tersebut berdasarkan pada teori,
konsep, dan definisi yang terangkum dalam bidang sastra. Sebagaimana hakikat
teori psikologi, maka teori sastra yang paling mendekati dan saling mendukung
untuk analisis karya sastra adalah teori perwatakan dan karakteristik. Teori
psikologi dan teori sastra harus sejalan dan mengisi satu sama lain.
Pendekatan psikologi sastra pada
novel Sebuah Usaha Melupakan
karya Boy Candra sangat hidup, karena terdapat bermacam watak dan karakteristik
didalamnya. Pada novel Sebuah Usaha
Melupakan karya Boy Chandra banyak berkisah tentang mencintai dan membenci
untuk mencintai. Selain itu, banyak juga berkisah tentang memperjuangkan impian
walau terkacaukan oleh percintaan. Sehingga alur
ceritanya pun sangat menarik untuk dibaca.
Analisis tentang psikologi sastra sangat lambat
perkembangannya hal ini disebabkan karena, Psikologi satra seolah-olah hanya berkaitan dengan
manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek
transindividual, sehingga analisis dianggap sempit, Dikaitkan dengan tradisi
intelektual, teori-teori psikologis sangat terbatas, sehingga para sarjana
sastra kurang kurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologin sastra,
Berkaitan dengan masalah yang pertama dan kedua , relevansi analisis psikologi
pada gilirannya kurang menarik minat, khususnya dikalangan mahasiswa, yang
dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya tulis yang lain yang
memanfaatkan pendekatan psikologi sastra.
Ruang lingkup psikologi sastra adalah (1) Alam bawah
sadar adalah bagian pikiran manusia yang tidak disadari keberadaanya, namun
pengaruhnya sangat besar. (2) Alam pra sadar yaitu mengingat kembali kenangan-kenangan
suatu peristiwa yang terjadi. (3) Alam sadar yaitu melakukan segala aktivitas
dengan sadar. Id merupakan komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. (4) Ego
adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan
nyata. (5) Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua moral
cita-cita yang kita peroleh dari kehidupan sosial. (6) Kompleks oidipus merujuk
pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual pada masa ketika hasrat seseorang
untuk secara seksual memiliki orang tua dengan jenis kelamin berbeda.
Sebuah
usaha melupakan merupakan
perenungan-perenungan perihal seseorang yang meninggalkan. Seseorang yang pergi
lalu melahirkan benci. Seseorang yang akhirnya disadari hidup akan baik-baik
saja tanpa dia. Bagaimana pun sedihnya kamu saat dipatah hatikan, kamu harus
kembali bangkit dan memperjuangkan harapan. Kamu tidak boleh menyerah hanya
karena seseorang yang kamu percaya ternyata tak benar-benar indah. Sesakit
apapun perasaanmu saat dilukai kamu harus tetap menerima dirimu sendiri.
B.
Saran
Diharapkan semua mahasiswa dapat
memahami dan mengerti tentang menganalisis novel menggunakan pendekatan
psikologi sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Minderop,
Albewrtine. 2010. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jakarta.
Endraswara
Suwardi.2008.Metode Penelitian Psikologi Sastra.Yogyakarta : Azza
grafika.
Candra, Boy. 2016. Sebuah Usaha Melupakan.
Jakarta: Mediakita.
Komentar
Posting Komentar