Langsung ke konten utama

Pengertian, Jenis dan Unsur Cerita Rakyat

 Cerita Rakyat

1. Pengertian cerita rakyat

Cerita rakyat merupakan suatu cerita yang tercipta berdasarkan pemikiran maupun peristiwa yang terjadi di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, setiap daerah memiliki cerita yang berbeda-beda. Hal ini sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh Hoetomo (2005 : 158) bahwa cerita rakyat atau disebut juga dengan folklor adalah adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, ilmu adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang dilisankan turun-temurun. Sudjiman (dalam Endaswara, 2013: 47) menambahkan bahwa cerita rakyat (folklor) merupakan kisah atau cerita yang beredar di kalangan masyarakat tanpa terikat pada ruang dan waktu. Dalam hal ini, cerita rakyat dapat berkembang pada sekelompok orang yang mampu mencerna dan meyakini kebenaran dari cerita tersebut.

Cerita rakyat atau folklor tidak terbatas pada kenyataan yang terjadi melainkan sebuah bentuk atau rupa dari khayalan sang pencipta karangan dan diyakini oleh sebagian atau lebih masyarakat, sehingga cerita tersebut berkembang dan diyakini sebagai kebenaran yang terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Dudung dalam Habsari (2017) dalam penelitiannya bahhwa cerita rakyat adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan tidak benar-benar terjadi. Endaswara (2013: 47) juga menambahkan bahwa cerita rakyat merupakan kreatifitas manusia berupa prosa yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut tanpa diketahui kebenarannya. Cerita rakyat dapat diciptakan berdasarkan kisah nyata maupun kisah fiktif hasil pemikiran seseorang untuk menyampaikan pesan tertentu kepada masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat atau folklor merupakan sebuah karya sastra (baik secara lisan maupun tulisan) yang berkembang di kalangan masyarakat tertentu secara turun-temurun tanpa perlu pembuktian kebenarannya. Pembuatan cerita rakyat tentu tidak serta-merta diciptakan tanpa maksud dan tujuan. Sebab, ada beberapa maksud tertentu dari sebuah cerita yang hanya mampu dipahami oleh orang-orang tertentu, maupun sengaja diciptakan untuk menarik perhatian untuk menyampaikan pesan tersembunyi. Oleh karena itu, cerita yang berkembang tersebut memiliki makna baik yang tersurat maupun yang tersirat. 

Di Indonesia sendiri banyak terdapat cerita rakyat yang berkembang seperti cerita Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang menceritakan tentang pembentukan Candi Prambanan, Legenda Sangkuriang yang menceritakan tentang bukit Tangkuban Perahu, Dongeng Si Kancil yang sangat populer dari masa ke masa dan masih banyak lagi cerita rakyat lainnya.


2. Jenis Cerita Rakyat

Cerita rakyat memiliki beberapa jenis yang berkembang. Beberapa ahli menyebutkan bahwa cerita rakyat dibagi menjadi lima bagian, yakni fabel, legenda, mite, sage dan parabel. Lima jenis cerita rakyat tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Fabel

Cerita fabel adalah cerita rakyat yang dikemas dengan menggunakan binatang sebagai tokoh untuk mengajarkan nilai karakter pada anak-anak. Binatang pada fabel dimanfaatkan untuk menarik perhatian anak-anak, sehingga memudahkan dalam menyampaikan pesan yang terkandung. Nurgiantoro (2004: 115) menyebutkan bahwa fabel merupakan cerita binatang yang dijadikan tokoh layaknya manusia sebagai karakter pada cerita tersebut. Fabel adalah kisah yang menceritakan sebuah kehidupan yang menjadikan binatang sebagai tokoh yang berperilaku selayaknya manusia sebagai sarana menyampaikan pesan moral terhadap anak-anak (Kemendikbud, 2014: 2).

Pendapat sejalan juga disampaikan oleh Sastriyani (1998: 39) yang menyebutkan bahwa fabel merupakan tempat pengarang menyampaikan pesan kepada pembaca melalui tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia. Berdasarkan pernyataan tersebut, fabel diartikan sebagai karya sastra yang menampilkan binatang sebagai tokoh dalam cerita yang digambarkan menyerupai manusia dan digunakan sebagai tempat pengarang untuk meyampaikan pesan moral kepada pembacanya.

b. Cerita Legenda

Legenda adalah cerita rakyat yang menampilkan asal-usul suatu wilayah dan menceritakan kehebatan seorang yang dianggap penting dalam wilayah tersebut. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Nurgiantoro (2004: 117) menyebutkan bahwa cerita legenda merupakan cerita yang menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap pahlawan dan memiliki kekuatan serta peran penting dalam suatu wilayah. 

c. Mite

Mite atau dikenal juga sebagai mitos merupakan cerita rakyat yang dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa supranatural yang dipercaya kebenarannya oleh sebagian besar masyarakat di suatu wilayah. Endaswara (2013: 47) mengemukakan bahwa mite atau mitos adalah sastra lisan yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki keunikan tersendiri. Keuinikan yang ada pada cerita mite atau mitos memiliki maksud dan tujuan yang tersirat.

Bascom dalam Danadjaja (1996: 50) mengungkapkan bahwa mite merupakan prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci, karena ditokohi oleh dewa-dewa atau makhluk setengah dewa. Dalam hal ini, mite atau mitos menjadi cerita yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang magis. Mite atau mitos juga berhubungan dengan misteri dan hal yang ghaib. 

d. Sage

Sage merupakan cerita tentang sejarah suatu daerah, baik berisi kepahlawanan, keberanian, maupun kesaktian. Hampir mirip dengan cerita legenda dan mite, sage juga menceritakan tentang peristiwa yang mengandung histori juga sudah ditambah dengan imajinasi masyarakat.

e. Parabel

Parabel adalah cerita yang berisi tentang ajaran agama. Contoh dari parabel yaitu kisah tentang wali songo dalam menyebarkan ajaran agama Islam, kisah pewayangan yang berisi ajaran agama Hindu dan Budha, dan sebagainya.


3. Unsur-Unsur Cerita rakyat

Cerita rakyat terdiri atas unsur-unsur pembangun cerita rakyat, antara lain: alur, tokoh dan perwatakan, latar, tema dan amanat. Berikut pembahasan masing-masing unsur.

a. Tokoh dan Perwatakan 

Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998:4) mengatakan bahwa tokoh adalah pelaku yang ada dalam cerita dan mengalami berbagai peristiwa di dalamnya. Hal serupa diungkapkan  Aminudin (dalam Siswanto 2008:142) yang menyatakan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga mampu menjalin suatu cerita, sementara pengarang menampilkan tokoh disebut penokohan.

Suharianto (2005: 20)Penokohan atau perwatakan merupakan gambaran mengenai tokoh yang ada pada cerita, dapat berupa pandangan hidup, sikap, keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya. 

Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku yang ada dalam cerita dan mengalami berbagai peristiwa sehingga mampu menjalin cerita. Sementara, penokohan merupakan penciptaan citra tokoh yang membedakan antara satu tokoh dengan tokoh lain.

b. Latar atau Setting 

Suharianto (2005: 22) menyatakan bahwa latar disebut juga setting yang berarti tempat atau waktu terjadinya cerita. Hal senada juga diutarakan oleh Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998: 5) bahwa latar adalah keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra.

Berdasarkan pendapat di atas, latar atau setting berarti tempat, waktu, dan suasana yang ada di dalam suatu karya sastra. Karya sastra yang dimaksud dalam penelitian ini ialah cerita rakyat.

c. Tema dan Amanat

Tema merupakan pokok permasalahan yang menjadi dominasi dalam karya sastra. Soharianto (2005: 17) menyebutkan bahwa pada hakikatnya, tema adalah permasalahan yang melatarbelakangi pengarang dalam menyusun karya sastra.

Aminudin (dalam Siswanto, 2018: 161) menambahkan bahwa tema merupakan ide yang mengaitkan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan yang dilakukan oleh pengarang. 

Dari uraian pendapat di atas, tema dapat diartikan sebagai gagasan atau ide pokok pengarang yang ingin disampaikan melalui karya sastranya. Tema suatu karya sastra dapat disampaikan secara tersurat dan dapat pula tersirat.

d. Alur atau Plot

Suharianto (2005: 18) mengungkapkan bahwa plot merupakan cara pengarang menjalin kejadian demi kejadian secara runtut, dengan memperhatikan hukum sebab dan akibat yang berpadu menjadi kesatuan yang utuh. Hal senada diungkapkan oleh Sudjiman (dalam Siswanto 2008: 159) bahwa alur adalah peristiwa yang diurutkan sebagai tulang punggung cerita.

Dari uraian pendapat tentang alur atau plot di atas, disimpulkan bahwa alur merupakan peristiwa-peristiwa yang diurutkan menjadi kesatuan yang utuh dan membentuk sebuah cerita. Alur dalam cerita rakyat terdapat serangkaian peristiwa dari awal hingga akhir.





DAFTAR PUSTAKA


Baried, Baroroh, dkk.. 1985. Memahami rakyat dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Damayanti, Rini. 2017. Modul Sastra Lama. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Departemen Pendidikan Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

Endraswara, Suwardi. 2013. Foklor Nusantara: Hakikat, Bentuk dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak Dua.

Permendikbud. 2014. Bahasa  Indonesia Wahana  Pengetahuan. Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Sarumpaet dan Riris K. Toha. 2002. Bacaan Anak-Anak . Jakarta: Pustaka Jaya.

Semi, M.A. 2002. Buku Pendukung Pengajaran Sastra. Dalam Sastra Masuk Sekolah (Editor Riris K. Toha-Sarumpaet). Magelang: Indonesiatera.

Umar, Azhar. 2017. Teori dan Genre Sastra Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra . Jakarta: PT Grasindo.

Wulansari Ayuning, Rosalia, dan Iqlima Safa Nur. 2018. Reaktualisasi Mitos Lokal sebagai Upaya Konservasi Kawasan Hutan Bambu Lereng Semeru Kabupaten Lumajang. Seminar Nasional PS PBSI FKIP Universitas Jember.

Endaswara, Suwardi. 2013. Folklor Nusantara: Hakikat, Bentuk dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Hoetomo. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Mitra Pelajar

Nurgiantoro, Burhan. 2004. Cerita Rakyat. Jakarta: Rajawali Press


Komentar