PROBLEMATIKA BAHASA; LATAR BELAKANG BAHASA PENUTUR, KODIFIKASI BAHASA, DIKOTOMI MAZHAB BAHASA - Makalah
MAKALAH
PROBLEMATIKA BAHASA; LATAR BELAKANG BAHASA PENUTUR, KODIFIKASI BAHASA, DIKOTOMI MAZHAB BAHASA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Problematika Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu :
Oleh :
NAMA
(NIM)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS DAN KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
Tahun
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah satu sistem simbol vokal yang arbitrer, memungkinkan semua orang dalam satu kebudayaan tertentu, atau orang lain yang telah mempelajari sistem kebudayaan tersebut, untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Chomsky mengemukakan bahwa kemampuan berbahasa adalah dasar bagi intelegensi manusia yang bisa didapat dengan mempelajarinya. Dengan bahasa, individu-individu melaksanakan berbagai kegiatan sosial sehari-hari.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, namun juga sebagai ciri khusus dari eksistensi sosial. Bahasa selalu menjadi perhatian para ilmuwan. Awal studi ilmiah atau pendekatan modern terhadap bahasa bisa dianggap sejak terbitnya Course de Linguistique Generale karya sarjana Swiss, Fardinan de Saussure yang dianggap sebagai pelopor linguistik modern.
Linguistik adalah studi bahasa secara ilmiah dan stuktur bahasa adalah fokus utamanya, dan tujuan dan objek utamanya adalah bagaimana orang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Menurut Saussure, linguistik hanya mempunyai satu-satunya bahasan pokok sistem bahasa ditinjau dari sudut bahasa dan untuk bahasa itu sendiri.
Dalam kehidupan bermasyarakat,bahasa memiliki peranan sebagai alat komunikasi guna menyampaikan ide gagasan individu manusia. Oleh karena itu, bahasa dipengaruhi oleh faktor lingkungan, budaya, kebiasaan dan faktor-faktor lainnya. Sehingga, memungkinkan bagi individu manusia melakukan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa.
Kesalahan dalam berbahasa lebih tepatnya dipengaruhi oleh psikolinguistik dan sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah perkawinan antara sosiologi dan linguistik yang menghasilkan bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu dalam masyarakat.
Di dalam kehidupan di dunia ini banyak sekali variasi-variasi bahasa yang dimiliki, khususnya di Indonesia yang kita cintai ini. Untuk lebih mengenal dan memahami keanekaragaman variasi dari bahasa ini. Selain itu, problematik bahasa juga dipengaruhi oleh dikotomi-dikotomi seperti analogi, anomali, perspektif, deskriptif dan sebagainya. Oleh karena itu, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya problematika bahasa.
Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya, sebagai berikut.
Bagaimana Latar belakang variasi dari segi penutur?
Bagaimana dikotomi anomali dan analogi?
Bagaimana dikotomi deskriptif dan perspektif?
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari pembahasan pada karya tulis ini adalah:
Mahasiswa dapat mengetahui Latar belakang variasi dari segi penutur.
Mahasiswa dapat mengetahui dikotomi anomali dan analogi.
Mahasiswa dapat mengetahui dikotomi deskriptif dan perspektif.
BAB II
PEMBAHASAN
Variasi dari Segi Penutur
Variasi bahasa dipengaruhi oleh sosial masyarakat. Oleh itu, sering dikenal sebagai sosiolingustik, yakni ilmu yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam kehidupan sosial. Artinya, bahasa dapat dipengaruhi oleh individu manusia dan lingkungan budaya terciptanya bahasa sendiri.
Variasi bahasa pertama yang kita lihat berdasarkan penuturnya adalah variasi bahasa yang disebut idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Namun yang paling dominan adalah “warna” suara itu, sehingga jika kita cukup akran dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.
Variasi bahasa kedua berdasarkan penuturnya adalah yang disebut dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Karena dialek ini didasarkan pada wilayah atau area tempat tinggal penutur, maka dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki kesamaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga. Contonya, dialek bahasa jawa memiliki beberapa perbedaan. Bahasa Jawa Banyumas dengan Bahasa Jawa Semarang dan Solo tentu berbeda. Dialek Bahasa Jawa Banyumas dikenal dengan bahasa ngapaknya, sedang bahasa jawa Semarang dan Solo memiliki bahasa yang terkesan lebih halus.
Contoh lain, perubahan fonem vokal dalam bahasa jawa Semarang dan Solo
Ana apa? Menjadi ono opo?
Aja! Menjadi ojo!
Terjadi perubahan fonem vokal /a/ menjadi fonem /o/ pada bahasa jawa semarang dan solo.
Kodifikasi Bahasa Indonesia
Kodifikasi atau standardisasi dan atau pembakuan bahasa adalah salah satu syarat bahasa itu disebut sebagai bahasa baku (standar). Kodifikasi bahasa adalah pembakuan dan penerimaan yang dilakukan oleh masyarakat pemakainya terhadap norma-norma yang dianggap benar dalam bahasa itu. Norma-norma yang dianggap benar dalam sebuah bahasa diformulasikan kemudian disebarkan kepada seluruh masyarakat pemakai dalam bentuk tata bahasa, kamus pedomaan ejaan secara tertulis. Lembaga-lembaga seperti pemerintah, pendidikan formal, media massa, kemudian mendukung dan mengembangkan ragam yang telah dikodifikasi.
Dikotomi Analogi dan Anomali
Analogi dan anomali sebagai suatu terminologi telah dikenal sejak zaman Plato dan Aristoteles. Kemunculan terminologi ini disebabkan karena populemya teori analogi dan anomali pada waktu itu yang masing-masing memiliki pendukung. Golongan pendukung analogi mengatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan, manusia juga memiliki keteraturan, demikian juga halnya dengan bahasa. Kelompok analogii mengatakan bahwa bahasa itu teratur. Sebagai bukti dalam bahasa Inggris bentuk jamak dari boy menjadi boys, table menjadi tables, flower menjadi flowers.
Keteraturan bahasa membawa konsekwensi dapat disusunnya suatu tata bahasa. Analogi ini dianut oleh Plato dan Aristoteles. Prinsip analogi ini sebenarnya merupakan tranforrnasi dari keteraturan logika dan matematika di dalam bahasa (Kaelan, 1998 :36). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, analogi memiliki arti kesepadanan anatara bentuk bahasa yang menjadi dasar terjadinya bentuk lain. Analogi biasa digunakan sebagai persamaan benda lain atau hal yang berkelainan; kiasan. Sedang anomali dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal semantis suatu bahasa.
Perspektif Analogi
Analogi adalah keteraturan bahasa, suatu satuan bahasa dapat dikatakan analogis apabila satuan tersebut sesuai atau tidak menyimpang dengan konvensi-konvensi yang telah berlaku.
Pembicaraan mengenai kata serapan apabila bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi tentu dilakukan dengan memperbandingkan antara bahasa pemberi pengaruh dengan bahasa penerima pengaruh. Untuk membicarakan kata serapan ke dalam bahasa Indonesia tentu dilakukan dengan memperbandingkan kata-kata sebelum masuk ke dalam bahasa Indonesia dan setelah masuk ke dalam bahasa Indonesia.
Analogi Dalam Sistem Fonologi
Banyak sekali kata-kata serapan ke dalam bahasa Indonesia yang temyata telah sesuai dengan sistem fonologi dalam bahasa Indonesia baik melalui proses penyesuaian atau tanpa melalui proses penyesuaian.
Di antara kata-kata tersebut misalnya:
Aksi yang berasal dari bahasa Inggris “actIon”
bait yang berasal dari bahasa arab “bait”
boling yang berasal dari bahasa Inggris “bowling”
dansa yang berasal dari bahasa Inggris “dance”
derajat yang berasal dari bahasa Arab “darrajat”
Fonem-fonem /a/, /b/, /d/, /e/, /f/, /g/, /h/, /i/, /k/, /l/, /m/, /n/, /0/, /r/, /s/, dan /t/ yang digunakan dalam kata-kata sebagaimana tersebut di atas adalah fonem-fonem yang sesuai dengan sistem fonologi dalam bahasa Indonesia, dengan demikian termasuk pada kriteria yang analogis, artinya yang sesuai dengan fonem yang lazim dalam bahasa Indonesia.
Perspektif Anomali
Anomali adalah penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa. Suatu satuan dapat dikatakan anomalis apabila satuan tersebut tidak sesuai atau menyimpang dengan konvensi-konvensi yang berlaku.
Metode yang digunakan untuk menentukan anomali bahasa pada kata-kata serapan dalam bahasa Indonesia disini adalah sama dengan metode yang digunakan untuk menetapkan analogi bahasa yaitu dengan memperbandingkan unsur intern dari bahasa penerima pengaruh, suatu kata yang tampak sebagai kata serapan dibandingkan atau dilihat dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Apabila kata tersebut ternyata tidak menunjukkan kesesuaian dengan kaidah yang berlaku berarti kata tersebut masuk kata yang anomalis.
Semua kata-kata yang asing yang masih diserap secara utuh tanpa melalui penyesuaian dengan kaidah di dalam penulisan, pada umumnya merupakan kata-kata yang anomalis di dalam bahasa Indonesia.
Contoh kata-kata tersebut antara lain adalah :
bank yang berasal dari bahasa Inggris “bank”
intern yang berasal dari bahasa Inggris “intern”
modem yang berasal dari bahasa Inggris “modem”
qur'an yang berasal dari bahasa Arab “qur'an”
jum'at yang berasal dari bahasa Arab “jum'at”
fardhu yang berasal dari bahasa Arab “fardhu”
Kata-kata seperti tersebut di atas temasuk anomali bahasa karena tidak sesuai dengan kaidah di dalam bahasa Indonesia. Hal-hal yang tidak sesuai disini adalah : <nk>, <m>, <'> dan <dh>. Ejaan-ejaan ini tidak sesuai dengan ejaan dalam bahasa Indonesia.
Dikotomi Deskriptif dan Perskriptif
Pengembangan Bahasa dengan Pendekatan Deskriptif
Pendekatan deskriptif adalah sebuah pendekatan yang mencoba untuk menjelaskan penggunaan bahasa secara aktual di lapangan, dengan kata lain, penggunaan bahasa berdasarkan siapa yang menuturkannya. Pendekatan deskriptif mengenai bahasa, atau disebut juga dengan linguistik deskriptif, adalah pendekatan yang secara objektif menganalisa dan menjelaskan bagaimana bahasa diujarkan (atau bagaimana bahasa diujarkan pada masa lampau) oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa.
Pengembangan bahasa dengan pendekatan deskriptif cederung melihat bahasa secara sinkronis, yaitu bahasa ada pada waktu diamati. Pada prinsipnya pengembangan bahasa dengan pendekatan merupakan pengembangan bahasa secara objektif berdasarkan apa yang dilihat (what you see) bukan seperti apa yang diharapkan (not what you expect to).
Pengembangan Bahasa dengan Pendekatan Preskriptif
Dahulu, akademisi dan guru menggunakan pendekatan preskriptif dalam tatabahasa. Dalam pandangan preskriptif, tatabahasa dianggap sebagai serangkaian kaidah untuk dipelajari, artinya kalimat-kalimat dapat dianalisa dan dinilai apakah benar atau tidak benar secara gramatikal.
Tujuan utama pendekatan preskriptif adalah untuk menjelaskan bentuk-bentuk bahasa yang distandardisasi baik bahasa yang digunakan secara umum ataupun bahasa yang digunakan untuk tujuan khusus dan untuk menyusun formula atau pola yang membuat bahasa lebih mudah dipelajari atau diajarkan. Pendekatan preskriptif bisa diaplikasikan pada hampir semua aspek dala bahasa: ejaan, tatabahasa, semantik, dan pengucapan.
Dikotomi Formalisme dan Fungsionalisme
Pandangan Formalisme
Salah satu komponen esensial dari dalam tata bahasa adalah sintaksis. Dalam sintaksis setiap kalimat direpresentasikan oleh serangkaian kata atau serangkaian formatif (formatives). Dengan adanya rangkaian kata tersebut terbentuklah makna, bentuk kalimat dan bentuk pengucapan.
Pandangan formalisme lebih mengutamakan pola formatif yang sudah digunakan sejak lampai. Secara lebih mudahnya, formalisme adalah format masa lampau yang terus digunakan dan dipatenkan sampai saat ini. perkembangannya mengikuti kodifikasi bahasa.
Pandangan formalisme dapat ditemukan pada bahasa tertulis pada buku-buku, karya ilmiah, dan karya tulis lain yang secara formatnya digunakan sejak dulu, dan makna setiap kata atau bahasa sesuai dengan makna secara harfiahnya.
Pandangan Fungsionalis
Bahasa didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi. Pandangan ini ingin memperlihatkan bagaimana bahasa bekerja dalam sistem masyarakat. Dalam sistem kemasyarakatan orang berbahasa itu untuk tujuan apa, apa maksudnya, apa sasarannya. Kita dapat dikatakan telah mengggunakan penjelasan fungsional jika kita telah memabahas makna-makna dari aspek maksud sebagaimana dilakukan oleh filsuf-filsuf.
Pandangan fungsionalis sering ditemukan pada bahasa-bahasa puisi. Sebab, bahasa pada puisi terdapat makna-makna kata atau bahasa yang tidak sesuai dengan makna harfiahnya.
Daftar Pustaka
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakrata: Balai Pustaka.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta.
Kaelan. 1998. Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta : Pardigma.
Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta. PT Gramedia.
Adyra Aradea Febriana. IMPLEMENTASI TEORI PRESKRIPTIF DAN DESKRIPTIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. May 2017, p.80-88. The 1st Education and Language International ConferenceProceedingsCenter for International Language Development of Unissula
Komentar
Posting Komentar